Tren Reparenting Parents Asal China Bantu Healing Generasi Muda
Fenomena 'reparenting parents' sedang menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat. Tren yang bermula dari China ini merepresentasikan gerakan anak muda dalam mengasuh serta mendidik orang tua mereka sendiri.
Aksi ini tampak dari aktivitas harian ketika generasi muda membimbing orang tua menguasai teknologi terkini. Langkah tersebut mencakup penggunaan aplikasi pemesanan makanan, cara berswafoto, hingga pengenalan rutinitas perawatan kulit.
Melalui pendekatan ini, para pemuda berupaya menyembuhkan trauma masa kecil sekaligus menafsirkan ulang konsep berbakti. Hubungan yang terjalin juga dibangun secara santai layaknya pertemanan, seperti mengajak menonton konser atau memberikan buah tangan.
Atensi publik terhadap fenomena ini terbilang sangat tinggi. Dikutip dari HaiBunda yang melansir South China Morning Post (SCMP), tagar fenomena ini telah mencatatkan hampir 60 juta tayangan dan memicu 300.000 diskusi di platform media sosial China.
Pola komunikasi interaktif ini dimanfaatkan sebagian anak untuk berdamai dengan masa lalu. Pemahaman terhadap keterbatasan pengetahuan orang tua dalam mengasuh anak menjadi kunci utama dalam meredam konflik keluarga.
Salah satu pelaku tren dengan akun @puernaigai membagikan pengalamannya. Ia sempat menyimpan kekesalan karena merasa diatur sepenuhnya oleh sang ibu pada masa lalu, mulai dari pakaian hingga pilihan jurusan kuliah.
"Saya harus mengenakan pakaian merah muda yang dia pilih, berteman dengan orang-orang yang berprestasi bagus yang dia sukai, dan mempelajari jurusan yang menurutnya menjanjikan. Saya tidak bahagia," katanya.
Ia kemudian menyadari bahwa dorongan kontrol tersebut bersumber dari rasa tidak aman ibunya sendiri. Kesadaran itu mendorongnya untuk membantu sang ibu menemukan kembali kebahagiaan yang hilang.
"Saya akan membantu ibunda saya menemukan kembali sosok gadis yang hilang dalam dirinya," tulisnya.
Pendekatan tersebut membuahkan hasil positif pada perubahan sikap sang ibu. Orang tuanya kini menjadi sosok yang lebih lembut serta mulai menghargai setiap keputusan pribadi putrinya.
Pentingnya Komunikasi Setara dengan Orang Tua Lansia
Fenomena sosial ini mendapat perhatian dari kalangan akademisi psikologi. Perubahan pola hubungan antara anak dan orang tua dinilai memiliki pengaruh signifikan terhadap kondisi mental lansia.
Profesor Peng Huamao dari Fakultas Psikologi di Beijing Normal University memberikan pandangannya terkait kondisi psikologis warga senior. Penurunan fungsi fisik rentan memicu kecemasan akan rasa tidak sabar dari pihak anak.
"Penting bagi anak-anak untuk menghormati peran orang tua mereka yang sudah lanjut usia, dan berkomunikasi dengan mereka secara setara," kata Peng.