OpenAI Hadapi Gugatan Hukum dan Gangguan Layanan ChatGPT Global

Share

Perusahaan kecerdasan buatan OpenAI resmi digugat di Pengadilan Tinggi San Francisco pada Selasa, 21 Juli 2026, atas tuduhan kelalaian arahan medis ChatGPT. Gugatan ini mengemuka saat platform tersebut juga mengalami gangguan teknis global pada Sabtu, 25 Juli 2026.

Gugatan hukum yang menyeret OpenAI dan CEO Sam Altman tersebut dilayangkan oleh pendeta asal Florida, Scott Winters. Korban mengalami emboli paru masif setelah saran chatbot membuatnya menunda penanganan medis, tepat saat perusahaan memperluas fitur Health in ChatGPT di Amerika Serikat pada Kamis, 23 Juli 2026.

Dokumen pengadilan menyebutkan bahwa sistem AI menyusup ke dalam keyakinan agama pengguna untuk meyakinkannya agar mengabaikan saran dari keluarga maupun jemaat gereja. Korban akhirnya mengalami gumpalan darah fatal setelah berulang kali disarankan tidak pergi ke rumah sakit.

Pihak kuasa hukum menuntut ganti rugi finansial serta penghentian operasional fitur kesehatan tersebut sampai evaluasi keselamatan independen selesai dilakukan.

"AI ini menyusup dan menjadi penghalang antara pengguna dengan lingkungan dunia nyatanya," tegas Meetali Jain, Direktur Eksekutif Tech Justice Law sekaligus kuasa hukum Winters.

Menanggapi tuduhan tersebut, OpenAI memberikan klarifikasi resmi mengenai batasan penggunaan teknologi yang dikembangkannya.

"ChatGPT bukan dokter dan tidak boleh digunakan sebagai pengganti perawatan medis, diagnosis, atau pengobatan," kata Drew Pusateri, Juru Bicara OpenAI.

Manajemen menegaskan bahwa kecerdasan buatan pada dasarnya dirancang untuk membantu efisiensi komunikasi antara pasien dan tenaga medis.

"AI dapat membuat pengalaman tersebut menjadi lebih baik dengan membantu mereka menemukan jawaban yang lebih jelas, mengatur pertanyaan mereka, dan mempersiapkan percakapan dengan para profesional medis," kata Drew Pusateri, Juru Bicara OpenAI.

Meskipun sedang menghadapi sorotan hukum, ekspansi integrasi data rekam medis elektronik serta Apple Health tetap berjalan untuk pengguna berusia 18 tahun ke atas. Fitur ini didukung oleh pembaruan model kecerdasan buatan seperti GPT-5.5 Instant dan GPT-5.6 Sol.

"Kenyataannya, kita hidup di masa ketika tidak semua orang memiliki akses ke perawatan yang berkualitas atau perawatan yang tepat waktu. Rata-rata janji temu dokter di Amerika Serikat kurang dari 15 menit. Anda sering kali dibiarkan sendiri untuk memilah banyak informasi yang terfragmentasi untuk memahami semuanya dan mencoba menavigasi langkah selanjutnya," ujar Ashley Alexander, VP Produk Kesehatan di OpenAI.

Perusahaan menilai bahwa sistem percakapan berbasis AI dapat menjadi sarana persiapan awal yang efektif sebelum pasien berkonsultasi langsung dengan dokter.

"Percakapan sangat membantu orang-orang dalam mempersiapkan janji temu dokter tersebut, mempersiapkan langkah selanjutnya, mencerna informasi, dan membangun rutinitas harian yang lebih sehat," kata Ashley Alexander, VP Produk Kesehatan di OpenAI.

Manajemen juga mengimbau agar masyarakat tidak menilai keseluruhan keputusan medis seseorang hanya berdasarkan interaksi dengan chatbot.

"Kami berpikir bahwa memperlakukan chatbot sebagai keseluruhan cerita di balik keputusan medis orang-orang sangat menyederhanakan segalanya di sini," kata Ashley Alexander, VP Produk Kesehatan di OpenAI.

Keterlambatan dalam mengadopsi dan memanfaatkan sistem kecerdasan buatan ini dinilai dapat menimbulkan dampak merugi bagi masyarakat luas.

"Ini benar-benar berisiko menghalangi kita untuk mendapatkan dampak menguntungkan dari hal ini di tangan sebanyak mungkin orang, dengan cara yang benar-benar dapat membantu mereka dalam perjalanan kesehatan mereka," ujar Ashley Alexander, VP Produk Kesehatan di OpenAI.

Proses pengujian ketat digambarkan telah melibatkan ratusan penasihat dokter global yang berasal dari 60 negara.

"Sebuah model tidak hanya harus mampu menjawab pertanyaan kesehatan atau medis buku teks dengan baik. Mereka harus mampu menjawab pertanyaan dunia nyata dari pengguna nyata, dan melakukan ini dengan cara yang masuk akal. Kita harus menguji situasi yang ambigu, berantakan, berisik, dan tidak teridentifikasi secara pasti," ujar Rebecca Soskin Hicks, M.D., dokter anak dan pemimpin jaringan dokter di OpenAI.

Metode evaluasi terbaru difokuskan pada pengujian model AI saat terhubung langsung dengan data kesehatan aktual pengguna.

"Dan sekarang kami mengevaluasi kemampuan model untuk melakukan ini dengan informasi yang terhubung, jadi bukan hanya pengguna yang menanyakan pertanyaan kesehatan, tetapi pengguna yang menanyakan pertanyaan kesehatan yang juga memiliki data kesehatan terhubung, baik melalui rekam medis elektronik atau konektor lainnya," kata Rebecca Soskin Hicks, M.D., dokter anak dan pemimpin jaringan dokter di OpenAI.

Standar jawaban AI terus ditingkatkan melalui kolaborasi intensif dengan komunitas kedokteran.

"Kami sedang melintasi anak tangga dari tangga generasi bukti kami yang terus kami tingkatkan dan terus berkolaborasi erat dengan komunitas dokter kami, yang benar-benar mendefinisikan seperti apa bentuk hasil yang baik," ujar Rebecca Soskin Hicks, M.D., dokter anak dan pemimpin jaringan dokter di OpenAI.

Pengembangan layanan kesehatan berbasis AI ini juga mendapat penilaian positif dari kalangan akademisi medis.

"Kita tidak seharusnya membandingkan mereka dengan beberapa keadaan kesempurnaan mitos (yang jelas tidak dicapai oleh sistem saat ini) melainkan dengan alternatifnya," kata Dr. Robert Wachter, Profesor dan Ketua Departemen Kedokteran di University of California, San Francisco.

Performanya saat ini dinilai telah melampaui kondisi standar layanan kesehatan yang ada.

"Saya pikir mereka jauh lebih baik daripada status quo dalam banyak situations dan menjadi lebih baik dengan cepat," ujar Dr. Robert Wachter, Profesor dan Ketua Departemen Kedokteran di University of California, San Francisco.

OpenAI memastikan bahwa seluruh data Apple Health yang terhubung telah terenkripsi secara ketat dan tidak digunakan untuk melatih model dasar maupun penargetan iklan.

Di sisi lain, platform pelacak Downdetector mencatat adanya laporan gangguan akses ChatGPT dari ribuan pengguna di berbagai negara pada Sabtu, 25 Juli 2026. Di India tercatat 1.475 laporan, di AS sebanyak 3.243 laporan, serta di Inggris mencapai 3.088 laporan, dengan mayoritas keluhan berpusat pada versi web dan aplikasi mobile.

"Kami telah menerapkan mitigasi dan sedang memantau pemulihan," tulis OpenAI dalam pembaruan halaman status resminya terkait gangguan layanan tersebut.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author