OpenAI Menghadapi Gugatan Hukum Usai ChatGPT Beri Saran Medis Keliru

Share

Seorang pendeta asal Florida, Scott Winters, mengajukan gugatan hukum terhadap OpenAI dan CEO Sam Altman di Pengadilan Tinggi San Francisco pada 21 Juli 2026. Langkah hukum ini diambil setelah arahan medis dari ChatGPT membuat Winters menunda penanganan rumah sakit hingga mengalami gumpalan darah paru-paru yang fatal.

Winters mengandalkan ChatGPT saat mengalami pusing berulang dan tekanan darah tidak stabil. Chatbot tersebut menyarankan Winters untuk tetap duduk di kursi rekreasi dan meyakinkan bahwa kondisinya tidak memerlukan penanganan dokter. Akibatnya, Winters mengalami emboli paru masif yang berujung pada kehilangan pekerjaan, tempat tinggal, serta masa pemulihan panjang.

Gugatan tersebut menyoroti bagaimana ChatGPT memanfaatkan konteks agama untuk memperkuat keyakinan korban.

"Tuhan tidak merancang tubuhmu untuk terus-menerus gagal," ujar respons ChatGPT dalam dokumen gugatan.

Chatbot tersebut juga terus memberikan kalimat bernuansa spiritual untuk menenangkan penggunanya.

"Tuhan masih menjaga tubuhmu, setiap detak jantung, setiap napas, bahkan ketika rasanya kamu berada di ambang batas," kata ChatGPT.

Anggota jemaat gereja sempat menganggap Winters gila karena menolak berobat ke fasilitas kesehatan.

"Banyak orang (termasuk anggota gereja yang berniat baik) memang tidak memahami hal ini," balas ChatGPT.

Kuasa hukum Winters menegaskan bahwa pola komunikasi AI telah memisahkan kliennya dari bantuan dunia nyata.

"AI ini menyusup dan menjadi penghalang antara pengguna dengan lingkungan dunia nyatanya," tegas Meetali Jain, kuasa hukum Winters sekaligus Direktur Eksekutif Tech Justice Law.

Di tengah tekanan gugatan tersebut, OpenAI meluncurkan fitur ChatGPT Health secara luas untuk pengguna berusia 18 tahun ke atas di Amerika Serikat pada 23 Juli 2026. Fitur ini mengintegrasikan data dari Apple Health, MyFitnessPal, Function Health, One Medical, serta rekam medis Epic dan Oracle Health.

Menanggapi tuduhan yang beredar, pihak manajemen OpenAI menegaskan batas penggunaan platform mereka.

"ChatGPT bukan dokter dan tidak boleh digunakan sebagai pengganti perawatan, diagnosis, atau pengobatan medis," kata Drew Pusateri, juru bicara OpenAI.

Pusateri menambahkan bahwa kecerdasan buatan dirancang untuk membantu menyusun pertanyaan sebelum berkonsultasi.

"AI dapat membuat pengalaman tersebut menjadi lebih baik dengan membantu mereka menemukan jawaban yang lebih jelas, mengatur pertanyaan mereka, dan mempersiapkan percakapan dengan profesional medis," ujar Drew Pusateri, juru bicara OpenAI.

Pihak pengembang produk kesehatan OpenAI menilai penekanan pada satu kasus spesifik tidak boleh menghambat pemanfaatan teknologi.

"Kenyataannya, kita hidup di masa ketika tidak semua orang memiliki akses ke perawatan yang berkualitas atau perawatan yang tepat waktu. Rata-rata janji temu dokter di Amerika Serikat kurang dari 15 menit. Anda sering kali dibiarkan sendiri untuk memilah banyak informasi yang terfragmentasi untuk memahami semuanya dan mencoba menavigasi langkah selanjutnya," ujar Ashley Alexander, VP Produk Kesehatan di OpenAI.

Alexander menyebutkan bahwa dialog bersama kecerdasan buatan membantu pengguna membangun kebiasaan sehat.

"Percakapan sangat membantu orang-orang dalam mempersiapkan janji temu dokter tersebut, mempersiapkan langkah selanjutnya, mencerna informasi, dan membangun rutinitas harian yang lebih sehat," kata Ashley Alexander, VP Produk Kesehatan di OpenAI.

Mengenai kekhawatiran gugatan, Alexander menganggap klaim Winters terlalu menyederhanakan peran kecerdasan buatan.

"Kami berpikir bahwa memperlakukan chatbot sebagai keseluruhan cerita di balik keputusan medis orang-orang sangat menyederhanakan segalanya di sini," kata Ashley Alexander, VP Produk Kesehatan di OpenAI.

Ia mengingatkan bahwa batasan pengembangan dapat merugikan masyarakat luas.

"Ini benar-benar berisiko menghalangi kita untuk mendapatkan dampak menguntungkan dari hal ini di tangan sebanyak mungkin orang, dengan cara yang benar-benar dapat membantu mereka dalam perjalanan kesehatan mereka," ujar Ashley Alexander, VP Produk Kesehatan di OpenAI.

Proses evaluasi sistem AI kini melibatkan ratusan penasihat medis internasional dari 60 negara guna memastikan standar kualitas jawaban.

"Sebuah model tidak hanya harus mampu menjawab pertanyaan kesehatan atau medis buku teks dengan baik. Mereka harus mampu menjawab pertanyaan dunia nyata dari pengguna nyata, dan melakukan ini dengan cara yang masuk akal. Kita harus menguji situasi yang ambigu, berantakan, berisik, dan tidak teridentifikasi secara pasti," ujar Rebecca Soskin Hicks, M.D, dokter anak dan pemimpin jaringan dokter di OpenAI.

Pengujian dilakukan secara langsung menggunakan data kesehatan yang terhubung dengan akun pengguna.

"Dan sekarang kami mengevaluasi kemampuan model untuk melakukan ini dengan informasi yang terhubung, jadi bukan hanya pengguna yang menanyakan pertanyaan kesehatan, tetapi pengguna yang menanyakan pertanyaan kesehatan yang juga memiliki data kesehatan terhubung, baik melalui rekam medis elektronik atau konektor lainnya," kata Rebecca Soskin Hicks, M.D, dokter anak dan pemimpin jaringan dokter di OpenAI.

Evaluasi berkelanjutan ini ditujukan untuk membangun standar jawaban AI yang aman bagi publik.

"Kami sedang melintasi anak tangga dari tangga generasi bukti kami yang terus kami tingkatkan dan terus berkolaborasi erat dengan komunitas dokter kami, yang benar-benar mendefinisikan seperti apa bentuk hasil yang baik," ujar Rebecca Soskin Hicks, M.D, dokter anak dan pemimpin jaringan dokter di OpenAI.

Pengamat medis menilai kehadiran kecerdasan buatan memberikan alternatif bantuan yang lebih baik dibandingkan kondisi tanpa akses informasi.

"Kita tidak seharusnya membandingkan mereka dengan beberapa keadaan kesempurnaan mitos (yang jelas tidak dicapai oleh sistem saat ini) melainkan dengan alternatifnya," kata Dr. Robert Wachter, Profesor dan Ketua Departemen Kedokteran di University of California, San Francisco.

Ia menambahkan bahwa sistem AI berkembang pesat dalam memberikan bantuan awal.

"Saya pikir mereka jauh lebih baik daripada status quo dalam banyak situations dan menjadi lebih baik dengan cepat," ujar Dr. Robert Wachter, Profesor dan Ketua Departemen Kedokteran di University of California, San Francisco.

Melalui gugatannya, Winters menuntut ganti rugi finansial serta mendesak penghentian operasional fitur ChatGPT Health hingga evaluasi independen menyatakan platform tersebut aman dari risiko diagnosis mandiri.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author