Houthi Ancam Balas Serangan Udara Arab Saudi di Hodeida
Eskalasi konflik militer kembali memanas setelah kelompok Houthi di Yaman mengancam akan membalas serangan udara Arab Saudi yang menargetkan wilayah pelabuhan Hodeida dan Pulau Kamaran pada Jumat, 24 Juli 2026, sebagaimana dilansir dari Detikcom. Aksi saling serang ini dipicu oleh deklarasi blokade maritim serta peluncuran serangan Houthi terhadap dua kapal dagang milik Arab Saudi di perairan Laut Merah pada pekan yang sama. Gempuran armada udara koalisi pimpinan Riyadh tersebut menyasar sejumlah pangkalan angkatan laut serta gedung telekomunikasi yang berada di dekat gerbang timur pelabuhan Hodeida.
Laporan media lokal menyebutkan bahwa dua orang mengalami luka-luka akibat ledakan tersebut, masing-masing seorang pekerja pelabuhan di Hodeida dan seorang wanita di Pulau Kamaran.
Pihak Houthi memberikan tanggapan keras atas gempuran udara yang dilancarkan oleh Arab Saudi ke kawasan pesisir tersebut. "Penargetan fasilitas sipil oleh musuh Saudi di Hodeida dan pulau Kamaran merupakan eskalasi yang berbahaya," tulis media Ansarollah milik Houthi di Telegram.
Kelompok yang didukung oleh Iran ini menegaskan sikap mereka untuk tidak tinggal diam atas tindakan militer tersebut. "Kami menegaskan bahwa kejahatan baru-baru ini tidak akan dibiarkan begitu saja," imbuhnya.
Di sisi lain, juru bicara koalisi pimpinan Arab Saudi menegaskan bahwa operasi militer tersebut dilakukan guna melumpuhkan ancaman terhadap jalur pelayaran internasional. "Militer Houthi yang teroris… menargetkan kapal-kapal dagang di Laut Merah," tulis Turki al-Maliki, juru bicara koalisi pimpinan Saudi, di media sosial X. Juru bicara tersebut menambahkan bahwa tindakan balasan tersebut kini telah rampung dilaksanakan oleh pasukan koalisi.
"Koalisi melakukan respons yang tegas dan kuat dengan menargetkan situs-situs militer Houthi yang digunakan untuk mengancam pelayaran di Laut Merah dan bahwa respons militer kini telah berakhir," imbuh al-Maliki.
Ketegangan terbaru ini berisiko merusak kesepakatan gencatan senjata tahun 2022 serta memperluas episentrum konflik Timur Tengah yang sempat melonjak sejak Februari lalu.