Transaksi Saham BUMI Tembus Rp2,2 Triliun Didorong Ekspansi Non-Batu Bara

Share

Aktivitas perdagangan saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memuncaki volume transaksi di Bursa Efek Indonesia pada Kamis (23/7/2026). Nilai transaksi harian emiten ini menembus Rp2,2 triliun dengan penguatan harga saham nyaris 9 persen ke posisi Rp183 per lembar.

Lonjakan perdagangan tersebut melibatkan sebanyak 12,1 miliar saham BUMI yang berpindah tangan sepanjang hari. Pergerakan saham yang terus berada di zona hijau ini turut diwarnai aksi beli bersih oleh investor asing sebesar Rp55,5 miliar.

Perkembangan operasional perseroan di sektor mineral strategis menjadi salah satu pemicu utama respons positif pasar finansial tersebut.

"Penguatan BUMI menunjukkan adanya ekspektasi positif menjelang laporan keuangan kuartal kedua. Investor tidak hanya melihat stabilitas kontribusi kinerja batu bara sebagai bisnis inti Perseroan, tetapi juga melihat bahwa strategi diversifikasi BUMI ke mineral strategis bukan lagi sekadar rencana, tetapi sudah memasuki fase operasional," kata Aditya Prayoga, analis Phintraco Sekuritas.

Langkah nyata diversifikasi usaha tersebut dijalankan anak perusahaan BUMI, Wolfram Limited, yang mengembangkan tambang Mt. Carlton di Australia. Fasilitas tersebut memproduksi emas, perak, serta tembaga, di mana operasional penambangan terbuka area V2 telah berjalan sejak April 2026 dan penambangan bawah tanah area A39 mulai mengakses bijih berkadar lebih tinggi.

Seluruh hasil konsentrat tambang Mt. Carlton telah terikat perjanjian off-take jangka panjang selama tujuh tahun bersama Glencore. Langkah ini dirancang guna mengamankan kepastian pembeli sekaligus memperkuat struktur komposisi EBITDA bisnis non-batu bara hingga 2031.

Selain proyek baru, kinerja keuangan BUMI pada kuartal I-2026 mencatatkan pertumbuhan pendapatan 20 persen secara tahunan menjadi USD417,7 juta dari sebelumnya USD348,8 juta. Laba kotor melonjak 62 persen menjadi USD82,8 juta, sedangkan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk naik 35 persen menjadi USD24,1 juta.

Sisi operasional mencatat peningkatan produksi batu bara menjadi 19,2 juta ton serta volume penjualan naik 14 persen menjadi 19,1 juta ton. Di saat yang sama, biaya produksi rata-rata berhasil ditekan menjadi USD40 per ton dari periode sebelumnya sebesar USD45,1 per ton.

"BUMI sedang bertransformasi dari produsen batu bara menjadi perusahaan pertambangan multikomoditas. Meskipun kontribusi aset mineral masih akan berkembang secara bertahap, pasar berpeluang memberikan valuasi baru karena sumber pendapatan BUMI menjadi lebih beragam," ujar Aditya Prayoga, analis Phintraco Sekuritas.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author