BNDES Serap Pengajuan Kredit Ekspor Brasil Rp59,4 Triliun
Bank Pembangunan Ekonomi dan Sosial Nasional Brasil (BNDES) mengantongi permohonan kredit senilai R$ 19,5 miliar (sekitar Rp59,4 triliun) pada tahap kedua program Plano Brasil Soberano. Fasilitas darurat ini dikucurkan untuk menopang perusahaan eksportir yang terpukul oleh lonjakan tarif impor Amerika Serikat. Berdasarkan data resmi BNDES, alokasi dana sebesar R$ 7,5 miliar ditujukan untuk perluasan dan adaptasi kapasitas produksi industri.
Sementara itu, R$ 4,7 miliar dialokasikan sebagai modal kerja produksi ekspor, dan R$ 1,2 bilhar sisanya disiapkan guna pengadaan barang modal. Secara keseluruhan, terdapat 677 proyek yang resmi terdaftar dalam program ini. Sebanyak 313 proposal berasal dari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), dengan konsentrasi utama pada sektor kesehatan, pupuk, mineral kritis, serta industri kimia.
Tahap kedua Plano Brasil Soberano memiliki total anggaran sebesar R$ 21 miliar, yang bersumber dari Fundo de Garantia à Exportação (FGE) senilai R$ 15 miliar dan kas internal BNDES sebesar R$ 6 miliar. Presiden BNDES Aloizio Mercadante menjelaskan bahwa pihaknya tengah melakukan verifikasi terhadap proyek-proyek strategis tersebut.
"Hasil ini menunjukkan mobilisasi sumber daya dalam investasi strategis untuk memperluas kapasitas produksi nasional, merangsang inovasi, dan mendukung penaklukan pasar-pasar baru," kata Presiden BNDES, Aloizio Mercadante. Di saat bersamaan, pemerintah federal Brasil resmi meluncurkan tahap ketiga Plano Brasil Soberano pada Rabu (22/7/2026). Langkah lanjutan ini menyiapkan skema bantuan baru senilai R$ 18,5 miliar untuk meredam dampak tarif impor tambahan sebesar 25 persen yang diberlakukan oleh pemerintah Amerika Serikat.
Fasilitas kredit tahap ketiga ini menargetkan tiga kelompok usaha utama. Kelompok pertama mencakup eksportir barang industri dan pemasoknya di sektor baja, tembaga, aluminium, otomotif, hingga furnitur yang memiliki porsi ekspor minimal 1 persen dari total pendapatan bruto periode Juli 2024 hingga Juni 2025. Kelompok kedua diperuntukkan bagi industri berteknologi menengah hingga tinggi yang relevan dengan neraca perdagangan serta transisi ekonomi rendah karbon. Adapun kelompok ketiga menyasar eksportir barang industri beserta rantai pasoknya yang berfokus pada pasar Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, Iran, Irak, Kuwait, dan Oman.