Perang Iran Ancam Posisi Partai Republik Jelang Pemilu Sela AS

Share

Eskalasi militer Amerika Serikat di Iran memicu kekhawatiran mendalam di kalangan internal Partai Republik jelang pemilu sela Kongres. Lonjakan biaya operasi militer dan korban jiwa pasukan AS mengancam dominasi mayoritas mereka di parlemen. Hingga saat ini, konflik tersebut telah menelan biaya sedikitnya 37,5 miliar dolar AS dan menewaskan 18 prajurit AS serta melukai lebih dari 450 personel.

Kondisi ini memperburuk inflasi domestic dan memicu lonjakan harga bahan bakar minyak hingga melebihi 4 dolar per galon. Presiden Donald Trump menghadiri upacara penghormatan empat prajurit AS yang tewas di Pangkalan Udara Dover saat gelombang kritik publik semakin meluas. Hasil jajak pendapat Washington Post-Ipsos mencatat hanya 28 persen warga AS yang mendukung perang ini, sementara 68 persen menganggapnya tidak sepadan.

Kekhawatiran juga merambah ke basis pendukung internal. Jajak pendapat Politico menunjukkan dukungan kelompok MAGA terhadap perang merosot dari 50 persen pada Mei menjadi 37 persen, dengan 57 persen di antaranya menyalahkan konflik tersebut atas kenaikan harga BBM.

Di tingkat legislatif, Menteri Pertahanan Pete Hegseth telah mengajukan tambahan anggaran militer sebesar 88 miliar dolar AS kepada Kongres. Namun, sejumlah politisi Republik di wilayah perebutan suara seperti Iowa, Alaska, dan Ohio memperingatkan bahwa isu ekonomi dan perang mulai menggerus keterpilihan mereka. Pihak Gedung Putih dan Komite Nasional Republik menegaskan bahwa kebijakan luar negeri Presiden Trump bertujuan mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir sekaligus menjaga keamanan nasional. Meski demikian, tim kampanye Republik menandai September mendatang sebagai batas waktu kritis untuk memulihkan peta politik sebelum pemungutan suara pada November.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author