Tren Slow Jogging Asal Jepang Mulai Ramai Diminati Pemula
Tren slow jogging semakin populer di media sosial. Metode lari santai yang berasal dari Jepang ini diminati masyarakat karena terasa lebih ringan daripada jogging konvensional, seperti dilansir dari Detik Health.
Metode olahraga ini dikembangkan oleh ahli fisiologi Prof Dr Hiroaki Tanaka dari Fukuoka University. Buku karyanya mengenai slow jogging telah diterbitkan di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Polandia.
Slow jogging dilakukan pada kecepatan yang tergolong nyaman, yakni sekitar 3 hingga 5 km/jam. Pelakunya tetap bisa bercakap-cakap tanpa terengah-engah saat berlari menggunakan metode talk test ini.
Latihan ini terbukti meminimalkan benturan pada lutut serta pergelangan kaki. Karakteristik ini membuatnya aman untuk pemula, lansia, maupun pemilik persendian yang sensitif.
Meskipun gerakannya santai, efek biologisnya bagi tubuh tetap optimal. Berlari pelan mampu melindungi fisik dari risiko cedera otot dan meningkatkan kapasitas aerobik atau VO2 Max dalam jangka panjang.
"Berlari dengan ritme lambat akan merangsang pertumbuhan lebih banyak pembuluh darah kapiler baru, sehingga oksigen lebih mudah masuk ke otot," jelas Todd Buckingham, PhD, seorang pelari, atlet triathlon, dan profesor tamu ilmu olahraga di Grand Valley State University kepada Health.
"Selain itu, latihan ketahanan ini juga meningkatkan jumlah mitokondria yang berfungsi sebagai pabrik energi bagi otot tubuh," lanjutnya.
Perkembangan Komunitas dan Pandangan Medis
Sebelum populer di Korea Selatan, gerakan ini sudah berkembang di Indonesia melalui komunitas 'Slow Jogging Indonesia' (SJI) yang berdiri sejak 30 Desember 2017. Komunitas yang berawal di Yogyakarta ini berkembang hingga ke kawasan Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta.
"Dulu komunitas di Facebook. Tapi kami dulu tersebar, kami latihannya by video terus dikirim, nanti dibetulkan running performance-nya. Pesertanya mayoritas adalah bapak-bapak, yang mau mengawali belajar lari," kata pengurus SJI, Wijang Sri Isnandita (49), saat ditemui di Komplek GBK, Jakarta, Senin (20/7/2026).
Wijang menyebutkan bahwa komunitas tersebut menjadi wadah bagi pemula yang ingin mulai berlari tanpa perlu merasa canggung. "Alhamdulillah, dari yang awalnya banyak yang pace 12, sekarang sudah banyak yang pace 4 itu sudah banyak," katanya.
Konsep SJI merujuk langsung pada ajaran Prof Hiroaki Tanaka. Namun, intensitas latihan bersama di Indonesia sedikit berbeda. "Bedanya kalau di Indonesia, kita latihan bersamanya jarang ya.
Dulu pernah ada terus vakum. Kalau di Korsel kan dia bisa latihan bersama, kayaknya konsisten untuk latihan bersama," katanya.
Dokter spesialis kedokteran olahraga dari RSUI, Dr dr Listya Tresnanti Mirtha, SpKO, Subsp.APK(K), MARS, menilai olahraga ini sangat efektif untuk membangun konsistensi.
"Dalam jangka panjang, hal ini justru memberikan manfaat kesehatan yang lebih besar. Singkatnya, sebenarnya olahraga terbaik bukan yang paling berat, tetapi yang paling bisa kita lakukan secara konsisten," kata dokter yang akrab disapa dr Tata tersebut.
Kelebihan dan Sasaran Slow Jogging
Slow jogging memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan lari biasa:
- Lebih mudah diterapkan oleh pemula.
- Nyaman dijalankan oleh kelompok lansia.
- Beban pada persendian jauh lebih rendah.
- Risiko mengalami cedera tergolong kecil.
- Mudah dijaga sebagai kebiasaan harian.
"Jadi sebenarnya bukan soal mana yang lebih unggul, tetapi mana yang paling sesuai dengan kondisi dan tujuan seseorang. Karena olahraga yang terbaik adalah olahraga yang aman, sesuai kemampuan, dan bisa dilakukan secara rutin," katanya.
Aktivitas ini direkomendasikan bagi pemula, penderita obesitas, usia paruh baya, serta orang yang sedang membangun rutinitas bergerak secara bertahap.
"Namun, bagi atlet atau individu yang memiliki target performa tertentu, slow jogging biasanya hanya menjadi salah satu bagian dari program latihan, bukan satu-satunya bentuk latihan," katanya.