Satu dari Tiga Remaja Indonesia Alami Gangguan Kesehatan Mental

Share

Persoalan kesehatan mental pada kelompok usia muda di Indonesia masih berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Temuan data Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) mencatat sebanyak 15,5 juta atau satu dari tiga remaja dari total 46 juta populasi remaja di Tanah Air mengidap gangguan kesehatan mental.

Kondisi yang kerap mendominasi kelompok ini meliputi gangguan kecemasan (anxiety), depresi, hiperaktivitas, Stres berat, serta masalah perilaku, seperti dilansir dari Detik Health.

Data tersebut juga menyoroti bahwa sekitar 2 persen anak dan remaja mengalami depresi. Dari angka pengidap depresi itu, sebanyak 61 persen di antaranya mengaku pernah memikirkan tindakan mengakhiri hidup (suicidal ideation) dalam kurun waktu satu bulan terakhir.

Risiko depresi ini tercatat lebih banyak menyasar remaja perempuan, pelajar tingkat pendidikan menengah, dan warga yang tinggal di wilayah perkotaan.

Meski tingkat prevalensinya tergolong tinggi, kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan fasilitas medis untuk menangani masalah psikologis ini tercatat masih amat rendah.

"Tapi, walaupun angka depresi ini termasuk tinggi, ternyata hanya 10 persen populasi usia muda ini yang mencari pertolongan ke dokter," kata dr Angga Wirahmadi, SpA, Subsp TKPS(K) dari Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang Pediatri Sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dalam webinar ilmiah, Selasa (21/7/2026).

"Ini menunjukkan masih rendahnya kesadaran dan akses terhadap layanan kesehatan mental," kata dr Angga Wirahmadi, SpA, Subsp TKPS(K).

Mencegah perburukan kondisi psikologis anak membutuhkan kepekaan orang tua dalam memantau perubahan perilaku sejak awal. Beberapa indikator khas depresi pada usia muda mencakup:

Hilangnya minat menjalankan aktivitas harian, munculnya rasa minder dan tidak berdaya, gangguan tidur atau insomnia yang memicu kelelahan, penurunan nafsu makan secara signifikan, hingga menguatnya perasaan tidak berguna.

"Coba dipantau apakah anak menunjukkan gejala atau tanda tersebut. Jika ada, konsultasikan segera ke dokter untuk dievaluasi lebih lanjut," kata dr Angga Wirahmadi, SpA, Subsp TKPS(K).

Indikasi Gangguan Kecemasan yang Perlu Diwaspadai

Selain depresi, orang tua diminta mewaspadai gangguan kecemasan tinggi pada anak. Remaja yang mengalaminya kerap berputar pada pikiran berlebihan (overthinking), menarik diri dari situasi tertentu, hingga sering mengeluhkan sakit perut.

Masalah kecemasan ini juga sering memicu keluhan fisik atau gejala somatis, antara lain:

Keluarnya keringat dingin berlebih, detak jantung berdebar kencang (palpitasi), pusing berulang, rasa gelisah yang membuat anak terus bergerak dan sulit tidur, serta kebutuhan konstan akan penenangan dari orang sekitar.

Kemunculan respons fisik tersebut kerap memicu timbulnya kesalahan diagnosis lantaran menyerupai gangguan organ tubuh lainnya.

"Jadi gejalanya sebenarnya agak sulit dibedakan dengan gangguan-gangguan lain. Sehingga kita sebagai dokter anak dan dokter yang berkecimpung atau melayani pasien anak tentunya harus tahu bagaimana cara mendeteksinya," kata dr Angga Wirahmadi, SpA, Subsp TKPS(K).

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author