Pemerintah Intervensi Pasar Obligasi di Tengah Pelemahan Rupiah
Pemerintah melakukan intervensi di pasar sekunder Surat Utang Negara (SUN) untuk meredam volatilitas nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar AS pada perdagangan Senin, 25 Mei 2026 siang.
Langkah intervensi berupa pembelian surat utang dengan target penyerapan Rp2 triliun per hari tersebut memicu aksi beli di pasar obligasi, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz.
Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 13:04 WIB, imbal hasil SUN tenor acuan 10 tahun turun paling dalam sebesar 5,2 bps ke posisi 6,68 persen.
Penurunan imbal hasil juga terjadi pada tenor 4 dan 5 tahun yang masing-masing merosot 5 bps menjadi 6,72 persen dan 6,66 persen.
Selanjutnya, imbal hasil untuk obligasi tenor pendek 1 dan 2 tahun ikut melandai masing-masing sebesar 1,7 bps ke angka 6,69 persen dan 1,9 bps ke level 6,66 persen.
Sementara itu, pergerakan imbal hasil surat utang pemerintah berdenominasi dolar AS atau INDON terpantau cenderung stagnan pada perdagangan tengah hari ini.
Imbal hasil INDON tenor 2 tahun berada di posisi 4,27 persen, tenor 3 tahun 4,46 persen, tenor 5 tahun 4,84 persen, tenor 7 tahun 5,12 persen, tenor 10 tahun 5,44 persen, dan tenor 30 tahun sebesar 5,79 persen.
Meskipun terdapat aksi intervensi di pasar obligasi, mata uang rupiah terpantau masih terdepresiasi sebesar 0,14 persen ke level Rp17.735 per dolar AS yang menjadi rekor terendah baru.
Pelemahan kurs rupiah dipengaruhi oleh memburuknya sentimen domestik terkait kondisi fiskal serta rilis data ekonomi pekan lalu yang menunjukkan defisit neraca pembayaran Indonesia kuartal pertama tahun ini membengkak menjadi US$9,15 miliar.