Transaksi QRIS Antarnegara Capai Rp1,52 Triliun Kuartal II 2026
Bank Indonesia mencatat nilai transaksi pembayaran berbasis QRIS antarnegara secara net inbound menembus angka Rp1,52 triliun pada kuartal II 2026. Capaian ini didorong oleh ekspansi konektivitas pembayaran digital lintas batas yang terus bertumbuh pesat di kawasan Asia.
Realisasi net inbound tersebut berasal dari akumulasi transaksi inbound masuk sebesar Rp1,85 triliun, sedangkan transaksi outbound masyarakat Indonesia di luar negeri tercatat sekitar Rp330 miliar pada periode yang sama.
"Kalau kita lihat di triwulan II 2026 ini transaksi QRIS antarnegara secara net inbound nominalnya sebesar Rp 1,52 triliun. Ini berasal dari nominal transaksi inbound sebesar Rp 1,85 triliun dan outbound sekitar Rp 330 miliar," ujar Filianingsih Hendarta, Deputi Gubernur Bank Indonesia.
Bank Indonesia menegaskan komitmen untuk terus memperluas jangkauan kerja sama sistem pembayaran nontunai dengan sejumlah otoritas keuangan global melalui penjajakan interkoneksi kode QR bersama Arab Saudi, India, dan Hong Kong.
"Namun, implementasinya kita harus memperhatikan kesiapan dari masing-masing negara, tentunya kesiapan regulasi, infrastruktur, industri dan juga koordinasi dengan otoritasnya," kata Filianingsih Hendarta, Deputi Gubernur Bank Indonesia.
Sebelumnya, akumulasi transaksi QRIS lintas batas sepanjang Januari hingga Mei 2026 sempat melonjak 380 persen secara tahunan hingga mencapai Rp2,71 triliun dengan volume 2,06 juta transaksi. Wisatawan asing mendominasi penggunaan dengan porsi 83 persen atau Rp2,25 triliun, yang mayoritas berasal dari pengguna asal Malaysia sebesar 58 persen dan China 39 persen.
"Indonesia menonjol karena kecepatan ekspansi QRIS," ujar Roshan Raj Behera, Analis Redseer Strategy Consultants.
Pengembangan sistem terbuka pada QRIS memberikan keunggulan interoperabilitas dibandingkan platform tertutup negara lain, sementara penggunaan mata uang lokal mampu menekan biaya konversi valuta asing dan mengurangi ketergantungan pada dolar AS.
Di tingkat domestik dan regional, perluasan infrastruktur digital turut mendorong total volume transaksi pembayaran digital nasional hingga mencapai 16,07 miliar transaksi atau tumbuh 36,88 persen secara tahunan pada kuartal II 2026, dengan lonjakan transaksi QRIS secara keseluruhan mencapai 100,12 persen.
"Volume transaksi pembayaran digital mencapai 16,07 miliar transaksi atau tumbuh 36,88 persen secara tahunan (yoy) pada triwulan II/2026 didukung oleh perluasan akseptasi pembayaran digital," kata Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.
Dukungan ekosistem juga datang dari sektor perbankan seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk yang mengintegrasikan fitur QRIS Cross-Border pada aplikasi BRImo sejak Mei 2026 untuk transaksi di Singapura, Malaysia, Thailand, Jepang, China, dan Korea Selatan.
"Dari sisi pengelolaan uang rupiah, Uang Kartal Yang Diedarkan (UYD) tumbuh 14,03 persen (yoy) menjadi Rp1,315 triliun pada triwulan II/2026," ucap Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.
Stabilitas ekosistem ditopang oleh BI-FAST yang memproses 1.529 juta transaksi senilai Rp3.777 triliun dan BI-RTGS sebesar 2,63 juta transaksi senilai Rp53.492 triliun, serta penetapan tarif QRIS merchant sebesar 0,7 persen yang mendukung pelaku UMKM.
"BI juga akan terus memastikan keamanan dan keandalan infrastruktur SPBI, baik ritel maupun wholesale, serta infrastruktur sistem pembayaran industri. Selain itu, terus menjaga ketersediaan uang rupiah dalam jumlah yang cukup dengan kualitas yang layak edar di seluruh wilayah NKRI," kata Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.
Guna memperluas koridor pembayaran internasional, Indonesia menjadwalkan integrasi sistem QRIS dengan Unified Payments Interface (UPI) milik India pada akhir 2026, setelah berhasil terhubung dengan jaringan pembayaran China pada April 2026.