Konsumsi Pertalite dan Biosolar Melonjak Pascapenyesuaian Harga BBM
Konsumsi bahan bakar minyak jenis Pertalite dan Biosolar mengalami lonjakan signifikan hingga Juli 2026 akibat migrasi pengguna BBM nonsubsidi setelah penyesuaian harga pada pertengahan April lalu. Pergeseran perilaku konsumen ini tercatat terjadi hampir di seluruh wilayah operasional PT Pertamina Patra Niaga.
Berdasarkan data BPH Migas hingga 30 Juni 2026, realisasi penyaluran Solar subsidi telah menyentuh angka 9,48 juta kiloliter atau 50,85 persen dari kuota APBN sebesar 18,64 juta kiloliter. Pada periode yang sama, penyaluran Pertalite mencapai 13,96 juta kiloliter atau 47,68 persen dari total kuota 29,27 juta kiloliter.
Kepala BPH Migas Wahyudi Anas menjelaskan bahwa peningkatan beban penyaluran BBM bersubsidi ini terjadi seiring tren perpindahan pola konsumsi masyarakat.
"Di mana untuk penyaluran distribusi Minyak Solar itu realisasinya mencapai 9,48 juta KL atau naik posisinya adalah tersalur 50,85% dari kuota yang ditetapkan oleh pemerintah 18,64 juta KL," kata Kepala BPH Migas Wahyudi Anas dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI.
Guna menjaga ketersediaan kuota hingga akhir tahun, BPH Migas memperketat pengawasan melalui kerja sama dengan 25 pemerintah provinsi dan memblokir sekitar 307.107 QR Code yang terindikasi disalahgunakan.
"Sementara untuk JBKP jenis Pertalite RON 90, realisasi penyaluran mencapai 13,96 juta KL atau setara 47,68% dari kuota yang ditetapkan dalam APBN 29,27 juta KL," ujar Wahyudi Anas.
Ia menambahkan bahwa penyesuaian harga pada BBM jenis umum mendorong masyarakat beralih menggunakan BBM bersubsidi.
"Posisi kenaikan saat ini memang di sektor Solar, ini pasca kenaikan jenis bahan bakar umum baik itu Dex series dan kemudian Pertamax dan lain-lain, itu terjadi kenaikan di mana masyarakat cenderung yang semula menggunakan BBM non-subsidi beralih menjadi subsidi," tutur Wahyudi Anas.
Pihaknya terus berupaya mengoptimalkan pendistribusian agar subsidi yang disalurkan pemerintah tepat sasaran.
"Kita juga terus melakukan optimalisasi agar supaya distribusi BBM subsidi tepat sasaran, itu kita melakukan pemblokiran hampir 307.107 QR Code. Dan ini kontinu terus bergerak dan naik karena adanya QR Code yang diproduksi dari ilegal," tegas Wahyudi Anas.
Dari sisi pengelola distribusi, Direktur Pemasaran Regional PT Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto memaparkan bahwa porsi konsumsi Pertalite terhadap total bensin nasional naik dari 75 persen pada periode Januari–Mei menjadi 80 persen pada Juli 2026. Sebaliknya, penjualan Pertamax Series merosot hingga 18 persen.
"Saat ini terjadi peningkatan (konsumsi Pertalite) hampir 9,4 persen hanya di bulan Juli saja," kata Director of Regional Marketing at PT Pertamina Patra Niaga Subholding Commercial & Trading Eko Ricky Susanto.
Pergeseran ini juga terjadi pada segmen gasoil, di mana volume Biosolar melonjak 13,9 persen pada Juli 2026 sementara konsumsi Dexlite dan Pertamina Dex turun 6,4 persen.
"Kalau secara komposisi perubahannya pada saat periode Januari-Mei, kondisi untuk produk Pertalite JKBP secara komposisi sekitar 75 persen, saat ini sudah bergeser ke 80 persen. Jadi hampir 5 persen komposisi BBM gasoil sudah bergeser kepada BBM PSO," ucap Eko Ricky Susanto.
Penurunan permintaan pada Dex Series juga dipicu oleh masuknya sejumlah kendaraan dari sektor industri yang mulai mengisi Biosolar di SPBU.
"Pengaruhnya terhadap produk Dex series, Dexlite, maupun Pertadex itu juga terjadi penurunan hampir 6,4 persen," ungkap Eko Ricky Susanto.
Ia menegaskan lonjakan permintaan BBM PSO telah terdeteksi sejak penyesuaian harga BBM nonsubsidi diberlakukan secara resmi.
“Saat ini terjadi peningkatan konsumsi BBM, khususnya produk BBM PSO Pertalite maupun JBT Biosolar,” kata Eko Ricky Susanto.
Menurutnya, penurunan porsi penjualan Pertamax terjadi secara substansial jika dibandingkan dengan rata-rata penjualan awal tahun.
“Produk-produk BBM JBU, khususnya Pertamax Series, terjadi penurunan hampir 18 persen dibandingkan periode sebelumnya,” jelas Eko Ricky Susanto.
Selain kendaraan pribadi, perubahan pola pengisian bahan bakar juga tampak di sektor angkutan industri.
“Ada beberapa sektor kendaraan yang didominasi industri mulai mengisi ke Biosolar di SPBU,” ujar Eko Ricky Susanto.
Dalam kesempatan lain, Pertamina Patra Niaga mengonfirmasi pergeseran konsumsi nasional terus dipantau secara harian untuk memastikan pasokan di SPBU tetap aman.
"Kalau secara komposisi perubahannya pada saat periode Januari-Mei kondisi untuk produk JBKP Pertalite secara komposisi sekitar 75%, saat ini sudah bergeser ke 80%. Jadi hampir 5% komposisi BBM gasoline itu sudah bergeser ke BBM PSO," tutur Eko Ricky Susanto.
Pergeseran perilaku konsumen tercatat terjadi secara instan setelah adanya perubahan skema harga pada BBM komersial.
"Dampaknya adalah saat ini produk-produk BBM JBU khususnya Pertamax series terjadi penurunan hampir 18% dibandingkan periode sebelumnya," kata Eko Ricky Susanto.
Pertamina mencatat bahwa peningkatan konsumsi terjadi secara konsisten sepanjang kuartal kedua tahun ini.
"Sejak Pertamina melakukan penyesuaian harga khususnya BBM JBU per 18 April yang lalu, telah terjadi perubahan perilaku konsumen untuk konsumsi BBM yang saat ini terjadi peningkatan konsumsi BBM khususnya produk BBM PSO baik itu Pertalite maupun Biosolar," kata Eko Ricky Susanto.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun menyatakan pihaknya mengawasi penyaluran secara harian dan belum melihat indikasi penetapan kuota bakal terlampaui.
"Pertamina tetap menjaga penyaluran Pertalite supaya tepat sasaran dan sesuai penugasan dari pemerintah termasuk memonitor dan mengevaluasi penyaluran secara harian," kata Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun.
Jika tren konsumsi terus meningkat hingga mendekati batas kuota APBN, Pertamina akan berkoordinasi dengan Kementerian ESDM dan BPH Migas untuk menentukan penambahan kuota.
"Pertamina selalu berkoordinasi dengan pemerintah, Kementerian ESDM, dan BPH Migas untuk menentukan langkah strategis yang diambil," kata Roberth MV Dumatubun.