Dokter Ungkap Manfaat Latihan Jatuh Ala Parkour untuk Lansia

Share

Aksi sekelompok lansia di Singapura yang memperagakan gerakan latihan jatuh atau fall training menarik perhatian masyarakat. Kegiatan tersebut diinisiasi oleh Movement Singapore sebagai bagian dari program parkour khusus bagi kelompok lanjut usia, sebagaimana dilansir dari Detik Health.

Program ini tidak mengajarkan lansia melompati gedung atau melewati rintangan ekstrem. Pelatihan berfokus pada teknik dasar seperti cara mendarat, berguling, serta membagi dampak benturan ketika tubuh kehilangan keseimbangan.

Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi dari Mayapada Hospital, dr Oryza Satria, SpOT(K), menilai metode latihan tersebut sangat positif dari sudut pandang medis.

"Tujuannya bukan mengajarkan lansia melakukan parkour ekstrem, melainkan melatih kemampuan tubuh untuk merespons kehilangan keseimbangan, mengurangi energi benturan saat jatuh, serta melindungi bagian tubuh yang rentan cedera," kata dr Oryza saat dihubungi detikcom, Rabu (22/7/2026).

Latihan ini terbukti memperkuat otot, meningkatkan refleks, serta memperbaiki koordinasi dan keseimbangan tubuh sebagai langkah pencegahan. Langkah mekanis ini efektif meminimalkan bahaya cedera berat meskipun kondisi tulang lansia cenderung rapuh.

"Dengan demikian, walaupun tulangnya tetap rapuh, risiko mengalami patah tulang dapat berkurang karena mekanisme jatuhnya menjadi lebih aman," katanya.

Dampak benturan saat terjatuh pada lansia jauh lebih mematikan dibanding kelompok usia muda. Terdapat beberapa ancaman cedera serius yang sering terjadi pada lansia:

1. Patah tulang panggul (hip fracture), terutama di daerah leher tulang paha.

2. Patah pergelangan tangan (distal radius fracture) karena refleks menahan tubuh dengan tangan

3. Patah tulang bahu, terutama pangkal atau bonggol tulang lengan atas (humerus)

4. Cedera kepala, mulai dari gegar otak hingga perdarahan otak, terutama pada lansia yang menggunakan obat pengencer darah.

5. Fraktur tulang belakang akibat osteoporosis, terutama pada tulang belakang bagian dada dan pinggang

Kondisi terjatuh juga menyimpan potensi komplikasi yang dapat berujung pada kematian. Bahaya utama kerap muncul akibat dampak turunan pascainsiden.

"Penyebab kematian tidak selalu karena patah tulangnya sendiri, tetapi akibat komplikasi setelahnya, seperti perdarahan otak, pneumonia karena lama tirah baring, infeksi, pembekuan darah di tungkai yang berlanjut menjadi emboli paru, hingga penurunan fungsi tubuh secara menyeluruh," kata dr Oryza.

"Bahkan setelah patah tulang panggul, risiko kematian dalam satu tahun pertama meningkat secara bermakna dibandingkan lansia seusia yang tidak mengalami cedera," sambungnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author