Pasar Antisipasi Keputusan BI Rate Jelang Pengumuman RDG Juli 2026

Share

Pasar keuangan Indonesia mengantisipasi keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia terkait BI Rate pada Rabu (22/7/2026). Langkah pengetatan monetary ini dinanti guna merespons tekanan nilai tukar rupiah dan risiko lonjakan inflasi.

Hasil survei terhadap 14 lembaga memperlihatkan delapan analis memproyeksikan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 6,00 persen. Sementara itu, enam analis lain memperkirakan suku bunga acuan ditahan di level 5,75 persen.

Tekanan terhadap mata uang nasional berlanjut hingga level Rp17.930 per dolar AS. Kondisi tersebut didorong oleh ketegangan geopolitik Timur Tengah yang menaikkan harga minyak Brent hingga 91,01 dolar AS per barel.

Ekspektasi pengetatan moneter disampaikan oleh pelaku pasar guna menekan penurunan nilai rupiah.

"BI Rate diperkirakan naik 25 bps ke 6,00% untuk memastikan stabilitas nilai tukar rupiah di tengah risiko geopolitik yang kembali memanas di Timur Tengah," ujar Mika Martumpal, Ekonom CIMB Niaga.

Potensi pengetatan global turut menjadi pertimbangan penting bagi bank sentral.

"Faktornya adalah volatilitas rupiah yang masih cukup besar, ekspektasi kenaikan Fed Rate tahun ini yang makin besar, serta dorongan untuk meningkatkan daya tarik aset portofolio domestik," ujar Fikri C. Permana, Chief Economist Valbury Asia Futures.

Langkah penyesuaian suku bunga juga dinilai berpotensi mengendalikan laju inflasi yang telah mencapai 3,34 persen secara tahunan pada Juni 2026.

"BI Rate diperkirakan kembali naik sebesar 25 bps untuk menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran sekaligus menahan pelemahan rupiah lebih lanjut," kata Hosianna Evalita Situmorang, Chief Economist Bank Danamon.

Namun, pandangan berbeda disampaikan oleh analis yang melihat transmisi kenaikan suku bunga sebelumnya masih berjalan.

"Skenario dasar RDG Juli adalah BI menahan BI Rate di 5,75% dengan pesan kebijakan yang tetap waspada. Kenaikan tambahan hanya diperlukan jika tekanan rupiah dan arus modal memburuk secara nyata," ujar Josua Pardede, Chief Economist Bank Permata.

Sikap menanti keputusan BI membuat nilai tukar rupiah bergerak pada kisaran Rp17.850 hingga Rp17.975 per dolar AS pada perdagangan Rabu pagi.

"Kami memperkirakan rupiah akan bergerak pada kisaran Rp17.850–17.975 per dolar AS seiring pelaku pasar menantikan hasil keputusan kebijakan moneter tersebut," ucap Josua Pardede, Kepala Ekonom Permata Bank.

Perkembangan pasar global dan kenaikan harga energi internasional berpotensi memicu ketegangan pasokan pasca ancaman blokade maritim oleh kelompok Houthi di Yaman terhadap Arab Saudi.

"Perkembangan ini meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan minyak global, sehingga mendorong harga minyak mentah Brent naik 2,01 persen menjadi 91,01 dolar AS per barel," kata Josua Pardede.

Di tengah dinamika pasar keuangan, instrumen Surat Berharga Negara Ritel ORI030 tercatat diminati investor. Kuota pemesanan ORI030-T3 tersisa sekitar Rp367 miliar atau 1,3 persen dari target Rp28 triliun pada Rabu (22/7) pagi, sementara seri ORI030-T6 masih menyisakan kuota Rp2,3 triliun dari target Rp7 triliun hingga penutupan masa penawaran pada 30 Juli 2026.

Pergerakan aset aman juga tercatat menguat dengan harga emas spot naik mencapai US$4.132 per troy ounce pada Rabu pagi. Selain itu, pemerintah dijadwalkan menerbitkan Panda Bond senilai sekitar US$1 miliar pada 23 Juli 2026.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author