Kelompok Houthi Ancam Blokade Laut Arab Saudi di Laut Merah
Kelompok Houthi menyatakan niat mereka untuk memblokir pelayaran dan kapal-kapal yang menuju pelabuhan Arab Saudi di Laut Merah. Pengumuman ini dinilai sebagai upaya Iran menguji kesabaran strategis Arab Saudi melalui kelompok proksinya pada Selasa, 21 Juli 2026.
Ancaman blokade maritim tersebut langsung berdampak pada lalu lintas pelayaran di kawasan. Kantor berita SABA yang dikelola Houthi melaporkan bahwa enam kapal terpaksa mengubah rute pada Selasa setelah menerima peringatan dari kelompok pemberontak tersebut.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengindikasikan bahwa ancaman blokade di Laut Merah tersebut belum menjadi persoalan yang mendesak bagi pihak keamanan internasional.
"Sejauh ini, itu belum terjadi," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Donald Trump menegaskan posisi pemerintahannya terkait perkembangan situasi di wilayah perairan kawasan Selat Bab al-Mandeb tersebut.
"Saya pikir jika ada hal seperti itu, kita hanya perlu membereskannya," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Presiden AS tersebut juga menambahkan bahwa hubungan militer di wilayah tersebut sejauh ini masih relatif stabil.
"Kami tidak memiliki masalah dengan Houthi baru-baru ini, dan mereka tidak memiliki masalah dengan kami untuk jangka waktu yang lama, termasuk selama konflik ini," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Langkah Houthi menargetkan jalur pelayaran di Selat Hormuz dan Bab al-Mandeb bertujuan menekan Arab Saudi dari gerbang maritim timur dan barat. Penutupan jalur ini berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi global mengingat posisi Arab Saudi sebagai eksportir minyak mentah terbesar dunia.
Eskalasi perselisihan ini juga melibatkan infrastruktur militer. Angkatan Udara Kerajaan Arab Saudi (RSAF) sebelumnya melakukan serangan ke Bandara Internasional Sanaa untuk menggagalkan upaya Iran membangun koridor logistik udara langsung ke Yaman.
Komando Pasukan Gabungan (JFC) yang dipimpin Arab Saudi kini mengerahkan lebih dari 650.000 personel gabungan. Pasukan ini didukung arsitektur komando terintegrasi yang mencakup intelijen persisten, pertahanan rudal udara, serta operasi siber untuk merespons serangan dari kelompok Houthi.