ADNOC Angkut Pasokan Energi Lewat Selat Hormuz Secara Rahasia
Abu Dhabi National Oil Co (ADNOC) dilaporkan telah mengangkut pasokan minyak dan gas keluar dari Teluk Persia secara rahasia menggunakan armada sendiri pada Senin (25/5/2026). Langkah diam-diam ini berhasil menghindari angkatan laut Iran dan kapal perang AS demi menjangkau pelanggan energi.
Dilansir dari Bloombergtechnoz, perusahaan asal Uni Emirat Arab (UEA) tersebut mengandalkan praktik transit gelap dengan mematikan transponder kapal saat melintasi Selat Hormuz. Data pelacakan menunjukkan ADNOC menjadi salah satu produsen paling sukses dalam mengambil pasokan dari Timur Tengah di tengah situasi konflik.
Upaya pengiriman kargo melalui Selat Hormuz ini telah berlangsung selama hampir tiga bulan perang. Produsen Timur Tengah lain dan pedagang Barat umumnya menyewa kapal tanker, sehingga pergerakan mereka dibatasi oleh tingkat toleransi risiko dari pemilik kapal.
ADNOC mensiasati pembatasan tersebut dengan menggunakan kapal yang dikendalikan oleh Navig8 dan Wanhua Chemical Group. Kapal-kapal yang digunakan meliputi tanker minyak mentah, produk minyak bersih, hingga kapal pengangkut gas.
Langkah berani ini diambil karena adanya urgensi pengiriman pasokan ke pasar akibat keterbatasan kapasitas penyimpanan. Kondisi ini diperkuat setelah Uni Emirat Arab resmi keluar dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada 1 Mei.
“Dengan keluarnya UAE dari OPEC dan upaya mencari cara untuk mengirim kapal melalui Selat Hormuz secara diam-diam, Adnoc bersedia mengambil risiko lebih besar demi mengekspor minyaknya,” kata Matt Wright, analis kargo senior di perusahaan intelijen Kpler.
Pihak manajemen ADNOC sendiri memilih untuk tidak memberikan detail operasional mengenai pergerakan armada mereka kepada publik. Juru bicara ADNOC Logistics & Services menyatakan bahwa kebijakan perusahaan melarang pemberian komentar mengenai posisi, pergerakan, atau rute kapal-kapal mereka.
Melalui metode operasional khusus, ADNOC dapat mengirimkan kapal-kapal yang baru selesai membongkar muatan untuk segera kembali ke Teluk Persia guna mengambil kargo tambahan. Pola pengiriman bolak-balik ini terbukti efektif dalam menjaga kelancaran aliran komoditas energi mereka.
Setelah melewati Selat Hormuz, armada tersebut biasanya memindahkan muatan ke kapal tanker klien di perairan aman lepas pantai Fujairah atau Sohar, atau langsung berlayar ke pantai barat India. Perjalanan pulang-pergi ini rata-rata memakan waktu sekitar satu minggu.
Aktivitas ekspor rahasia ini juga mencakup pengiriman setidaknya tiga muatan gas alam lagu (LNG) melalui Selat Hormuz. Citra satelit mendeteksi kapal tanker LNG telah bersandar di Pulau Das selama setidaknya sebulan tanpa memancarkan sinyal posisi mereka.
Volume pengiriman yang masif menunjukkan kemampuan ADNOC dalam menyeimbangkan kekuatan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran di jalur laut tersebut. Saat ini, pejabat senior AS melaporkan bahwa AS dan Iran hampir mencapai kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz.
“sebagian besar telah dinegosiasikan” kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Walau menyebut negosiasi perdamaian dengan Iran sudah hampir rampung, Donald Trump menegaskan tidak akan terburu-buru menandatangani kesepakatan tersebut. Beberapa poin krusial yang masih menjadi kendala utama antar kedua belah pihak meliputi program nuklir Iran.