FAA Gandeng Air Space Intelligence Integrasikan AI Kurangi Delay Penerbangan AS

Share

Keterlambatan penerbangan yang kerap mengganggu perjalanan udara di Amerika Serikat akan segera ditangani menggunakan teknologi canggih. Otoritas penerbangan Federal Aviation Administration (FAA) bersiap menerapkan sistem berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Langkah ini dilakukan melalui kucuran kontrak senilai USD 875 juta kepada Air Space Intelligence (ASI).

Kerja sama tersebut bertujuan menghadirkan dua platform utama pemantau lalu lintas udara, sebagaimana dilansir dari Detik Travel. Sistem pertama yang disiapkan adalah platform bernama Smart. Teknologi ini berfungsi menganalisis data penerbangan untuk memprediksi potensi kemacetan serta konflik ruang udara sebelum pesawat lepas landas.

Petugas pengatur lalu lintas udara nantinya menerima rekomendasi rute dan jadwal keberangkatan secara otomatis dari Smart. Melalui pendekatan ini, potensi penumpukan pesawat dapat diantisipasi lebih awal.

Sementara itu, sistem kedua bernama Flow Management Data and Services (FMDS) disiapkan sebagai pusat data utama. FMDS bertugas mempelajari jadwal maskapai, kapasitas bandara, proyek perbaikan landasan, hingga pola cuaca guna memproyeksikan arus penerbangan beberapa bulan sebelumnya. Mantan spesialis sistem ruang udara nasional FAA, Philip Mann, menilai penerpalan teknologi ini berpotensi meminimalkan gangguan perjalanan bagi penumpang. Penyesuaian jadwal yang presisi diperkirakan mampu mencegah penumpukan dampak akibat cuaca buruk.

"Dalam beberapa kasus mungkin jumlah penerbangan yang tersedia sedikit berkurang karena jadwal disesuaikan dengan kapasitas yang mampu ditangani saat cuaca buruk," ujarnya seperti dikutip Travel Weekly, Selasa (21/7/2026). Meskipun menjanjikan, sejumlah pakar meragukan target penerapan penuh sebelum akhir tahun 2028. Keberhasilan platform Smart dan FMDS dinilai sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur pendukung, seperti jaringan serat optik, sistem pelacakan baru, dan peningkatan deteksi cuaca.

Kritik juga datang dari mantan pilot United Airlines yang kini memimpin ATH Group, Michael Baiada. Ia berpendapat bahwa pengoperasian antrean penerbangan seharusnya dikelola secara mandiri oleh pihak maskapai. Menurutnya, penyerahan kendali kepada sistem terpusat milik pemerintah berisiko menurunkan efisiensi operasional maskapai.

Penyesuaian antrean otomatis oleh sistem FAA dinilai dapat menyetarakan seluruh maskapai pada standar terendah. "Sangat buruk bagi bisnis maskapai jika menyerahkan kendali aset utama kepada pemerintah," kata Baiada.

Di sisi lain, FAA optimistis perpindahan data ke platform berbasis cloud akan mengubah pola kerja dari reaktif menjadi prediktif. Dukungan awal turut disampaikan oleh organisasi Airlines for America, meskipun tantangan utama terletak pada penerimaan maskapai terhadap kebijakan pengurangan jadwal di area padat.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author