Prabowo Ungkap Modus Underinvoicing Ekspor Kelapa Sawit
Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan adanya praktik permainan harga ekspor kelapa sawit yang berpotensi menghilangkan pendapatan negara hingga 50 persen. Hal tersebut disampaikan dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin (20/7/2026), dilansir dari Detik Finance.
Prabowo menjelaskan bahwa komoditas sawit Indonesia kerap dibeli dengan harga murah di bawah standar pasar domestic, namun kemudian dijual kembali ke pasar internasional seperti Eropa dengan nilai yang melambung tinggi. Skema kecurangan ini dinilai memicu kebocoran aliran dana ke luar negeri.
"Jadi permainan seperti inilah yang menusuk hati kita. Jadi perusahaan, dari Indonesia dia ekspor, begitu di sini dia jual Rp 14.000, dalam perjalanan ke Eropa, konon kabarnya berubah-ubah lagi kontraknya, sehingga di sana Rp 27.000. Jadi kita hilang 50% kekayaan kita. Satu kali perjalanan kita hilang 50% kekayaan kita," ujar Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna yang dipantau secara daring melalui YouTube, Sekretariat Presiden, Senin (20/7/2026).
Guna mengatasi penipuan pelaporan atau underinvoicing tersebut, pemerintah langsung berkoordinasi dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) hingga Dewan Ekonomi Nasional (DEN). Pemerintah sepakat membenahi tata kelola melalui pembentukan sistem ekspor satu pintu di bawah BUMN PT Danantara Sumberdaya Indonesia.
"Untuk hadapi praktik under invoicing atau pelaporan-pelaporan palsu, saya kumpulkan KSSK, Menteri Keuangan, Bank Indonesia, OJK, dan tim ekonomi kita, kita telah kumpul di Istana Merdeka, Ketua DEN juga hadir dengan beberapa penasehat ekonomi," ungkap Prabowo.
Langkah penguatan tata kelola ekspor komoditas nasional ini diambil demi menghentikan keluarnya potensi kekayaan negara yang bernilai ratusan miliar dolar AS.
"Waktu itu saya gambarkan, saya minta pendapat mereka semua, apa mau kita teruskan ini aliran uang ratusan miliar dolar ke luar negeri? Kekayaan kita, dari sumber daya kita. Mau kita teruskan?
Mereka semua bilang, 'jangan, Pak, jangan kita teruskan.' Bagaimana caranya tidak kita teruskan? Akhirnya diusulkanlah sistem ekspor satu pintu untuk komoditas-komoditas milik bangsa dan negara," jelas Prabowo.