Kebijakan Ekspor Satu Pintu Berpotensi Katrol Harga Batu Bara Global

Share

Kebijakan Indonesia menerapkan ekspor komoditas sumber daya alam satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) diprediksi memicu lonjakan harga batu bara global hingga 25 persen akibat potensi gangguan pasokan berat. Keputusan mendadak yang diumumkan Presiden Prabowo Subianto ini mengejutkan pasar internasional menjelang pemberlakuan pada 1 Juni 2026.

Dilansir dari Bloomberg Technoz, Indonesia merupakan salah satu eksportir batu bara termal terbesar di dunia dengan rata-rata pengapalan mencapai 350 hingga 400 juta ton per tahun. Pengaruh kebijakan struktural baru ini dinilai sangat bergantung pada kelancaran arus barang di pelabuhan selama masa transisi operasional.

"Jadi setiap kebijakan struktural yang diambil Indonesia pasti memiliki gaung di pasar global. Harga batu bara global justru berpotensi merangkak naik akibat kekhawatiran kelangkaan pasokan [supply shock]," ujarnya saat dihubungi, Senin (25/5/2026).

Analis komoditas dan founder Traderindo Wahyu Laksono memaparkan bahwa posisi harga ICE Newcastle Coal per 21 Mei 2026 berada di level US$137.55 per ton. Angka ini mencerminkan tren penguatan pascakoreksi tajam pada April lalu.

"Jadi, pengaruhnya sangat bergantung pada seberapa lancar arus barang keluar dari pelabuhan kita selama masa transisi ini," tambahnya.

Wahyu memproyeksikan dua skenario kenaikan harga jika sistem satu pintu mengalami kendala. Skenario pertama adalah kemacetan logistik ringan hingga sedang akibat transisi administratif dokumen di pelabuhan.

"Posisi ini berada dalam tren penguatan pascakoreksi tajam pada April, mendekati area puncaknya dalam beberapa bulan terakhir," ungkapnya.

Keterlambatan pengapalan selama satu hingga dua minggu berpotensi mengerek harga sebesar 5 persen sampai 10 persen. Nominal harga batu bara diproyeksikan melonjak ke kisaran US$144 hingga US$151 per ton akibat kepanikan jangka pendek pasar global.

"Mengingat status Indonesia sebagai raja eksportir batu bara termal dunia, gangguan ini akan langsung mengerek harga ICE Newcastle naik sebesar 5%—10%," katanya.

Skenario kedua melibatkan gangguan pasokan berat atau kemacetan total lebih dari tiga minggu di Kalimantan dan Sumatra. Kondisi ekstrem tersebut diyakini akan memaksa negara pembeli besar beralih mencari kargo alternatif.

"[Hal ini dapat memicu] negara pembeli besar seperti China dan India akan berebut mengamankan kargo alternatif dari Australia atau Afrika Selatan," katanya.

Perebutan pasokan itu diprediksi melonjakkan harga sebesar 15 persen hingga 25 persen ke level psikologis baru antara US$158 sampai US$172 per ton. Namun, akumulasi biaya denda keterlambatan kapal dan kecepatan respons pemerintah akan menjadi penentu utama volatilitas tersebut.

"Jika skema satu pintu BUMN ini justru memicu sumbatan pasokan, ironisnya volatilitas harga global akan meningkat tajam. Pasar internasional terpaksa membayar lebih mahal akibat risiko regulasi domestik Indonesia, sementara para pelaku usaha di dalam negeri harus menanggung beban operasional yang membengkak selama masa transisi," jelasnya.

Ketidakpastian di kalangan pelaku usaha muncul karena masa transisi pembentukan badan ekspor ini berlangsung kurang dari 10 hari sejak diumumkan pada Rabu (20/5/2026). Pelaku usaha internasional mengkhawatirkan kesiapan operasional nyata di lapangan.

"Dengan masa transisi yang kurang dari 10 hari menjelang 1 Juni, wajar jika muncul kekhawatiran besar mengenai kesiapan operasional dan dampaknya terhadap arus logistik ekspor. Kebijakan yang sangat mendadak seperti ini biasanya memicu sentimen ketidakpastian tinggi di kalangan pelaku usaha dan pembeli internasional," jelasnya.

PT DSI sendiri baru dibentuk pada 18 Mei 2026 sebagai anak usaha Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara dengan modal dasar Rp100 juta berdasarkan dokumen Kementerian Hukum. Pemerintah Republik Indonesia memegang langsung saham seri B, sementara jabatan Direktur Utama dipercayakan kepada Luke Thomas Mahony.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author