Saham Produsen Chip Melonjak Terapang IHSG Wall Street Pagi Ini
Sektor produsen chip memori memimpin kenaikan bursa saham Wall Street di Amerika Serikat saat dibuka menguat pada perdagangan Senin (20/7/2026). Para investor di pasar modal tengah bersiap mengantisipasi rilis laporan kinerja keuangan kuartal II-2026 dari deretan emiten teknologi raksasa.
Penguatan bursa AS tersebut dicatat oleh Reuters pada tiga indeks utamanya. Indeks Dow Jones Industrial Average naik 8,2 poin atau 0,02 persen ke level 52.154,57, S&P 500 menguat 31,5 poin atau 0,42 persen ke 7.489,18, dan Nasdaq Composite melesat 200,6 poin atau 0,79 persen menuju posisi 25.720,87.
Lonjakan harga saham di prapembukaan pasar ditopang oleh saham Western Digital, Seagate Technology, Micron Technology, dan SanDisk dengan kenaikan berkisar antara 3,7 persen hingga 4,7 persen. Kenaikan tajam ini terjadi setelah Indeks Philadelphia SE Semiconductor sempat merosot hingga memasuki fase bear market pada Jumat (17/7) lalu, akibat terkoreksi lebih dari 20 persen dari rekor tertingginya akhir Juni.
Pelaku pasar kini menantikan laporan keuangan perusahaan teknologi besar seperti Alphabet, Tesla, Intel, IBM, dan Texas Instruments. Rilis data keuangan ini akan menjadi indikator utama arah sektor teknologi setelah lonjakan investasi infrastruktur kecerdasan buatan (AI) memicu reli saham sepanjang tahun ini.
Kondisi pasar saham yang berada dalam ekspektasi tinggi mendapat tanggapan dari pengamat pasar modal.
"Ruang untuk kesalahan di pasar saat ini semakin sempit. Setiap perkembangan baru, baik dari laporan keuangan maupun peristiwa lain, berpotensi menggerakkan pasar ke bawah," kata Senior Investment Analyst GuideStone Funds Jack Herr.
Sementara itu, data LSEG menunjukkan estimasi pertumbuhan laba perusahaan dalam indeks S&P 500 kuartal II-2026 direvisi naik menjadi 26 persen secara tahunan dari proyeksi awal 23,7 persen. Di sisi lain, data FedWatch CME Group mencatat peluang kenaikan suku bunga acuan The Fed sebesar 25 basis poin berada di angka 12 persen untuk pertemuan Juli dan 53 persen pada September, sembari investor terus memantau eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan AS, Israel, dan Iran.