Bursa Saham Wall Street Menguat Jelang Rilis Laporan Keuangan Emiten AI

Share

Bursa saham Wall Street di Amerika Serikat dibuka menguat pada perdagangan Senin (20/7/2026) akibat terdorong pemulihan saham semikonduktor serta antisipasi investor terhadap rilis laporan keuangan emiten teknologi besar. Berdasarkan data Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average naik 0,02 persen ke level 52.154,57, S&P 500 menguat 0,42 persen ke 7.489,18, dan Nasdaq Composite bertambah 0,79 persen ke posisi 25.720,87.

Kenaikan ini terjadi setelah pergerakan fluktuatif pada Kamis (16/7/2026), saat S&P 500 menguat 0,2 persen, Dow Jones bertambah 88 poin, dan Nasdaq naik 0,3 persen menurut laporan AP. Sektor keuangan sebelumnya memimpin penguatan lewat lonjakan saham BlackRock sebesar 5,9 persen dan Bank of New York Mellon sebesar 4,6 persen usai kinerja kuartalan keduanya melampaui proyeksi pasar.

Kinerja positif sektor keuangan tersebut dikonfirmasi langsung oleh pimpinan BlackRock setelah rilis laporan kuartalan perusahaan.

"Dana iShares kami telah melampaui USD6 triliun atau sekitar Rp107,4 kuadriliun dalam aset kelolaan sepanjang kuartal ini, hampir dua kali lipat dibandingkan tiga tahun ago," ujar Laurence Fink, Chief Executive Officer BlackRock.

Selain itu, Cintas membukukan kenaikan laba 4,4 persen, sedangkan saham Elevance Health terkoreksi 8,9 persen meskipun pendapatannya melebihi ekspektasi. Keyakinan pasar juga didukung oleh penurunan inflasi produsen AS dari 6 persen pada Mei menjadi 5,5 persen pada Juni.

Kondisi melandainya inflasi produsen tersebut mendapat respons optimis dari pejabat bank sentral AS.

"Ada alasan yang menggembirakan untuk memperkirakan bahwa inflasi telah mencapai puncaknya dan akan terus menurun secara bertahap dalam beberapa kuartal ke depan," kata John Williams, Presiden Federal Reserve New York.

Kendati demikian, pimpinan puncak bank sentral tetap mengimbau agar pelaku pasar tidak terburu-buru menyimpulkan kondisi ekonomi.

"Setiap bankir sentral tentu senang melihat data bergerak ke arah yang benar, tetapi semua indikator ini tetap merupakan ukuran yang belum sepenuhnya menggambarkan kondisi inflasi yang sebenarnya," ujar Kevin Warsh, Ketua Federal Reserve.

Sikap hati-hati tersebut membuat imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun ke level 4,55 persen. Data FedWatch CME Group mencatat peluang kenaikan suku bunga pada Juli hanya 12 persen dan September sebesar 53 persen.

Fokus investor kini beralih pada laporan keuangan kuartal II-2026 dari Alphabet, Tesla, Intel, dan IBM guna menguji reli industri kecerdasan buatan (AI) pasca-penurunan indeks semikonduktor Philadelphia pekan lalu.

"Ruang untuk kesalahan di pasar saat ini semakin sempit. Setiap perkembangan baru, baik dari laporan keuangan maupun peristiwa lain, berpotensi menggerakkan pasar ke bawah," kata Jack Herr, Senior Investment Analyst GuideStone Funds.

Di tingkat global, produsen mesin cip ASML asal Belanda mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang melampaui estimasi pasar akibat lonjakan permintaan infrastruktur AI.

"Kemajuan kecerdasan buatan yang terus berlanjut membuat para pelanggan mempercepat ekspansi mereka," ujar Christophe Fouquet, Chief Executive Officer ASML.

Pasar juga mencermati lonjakan indeks Kospi Korea Selatan sebesar 6,2 persen, kenaikan Hang Seng Hong Kong 1,4 persen, dan penurunan Shanghai Composite 0,3 persen seiring perlambatan ekonomi China ke level 4,3 persen.

Di samping data saham, ketegangan geopolitik turut membayangi pasar energi setelah militer Iran melontarkan ancaman penutupan jalur distribusi minyak internasional.

"Ekspor minyak dan gas dari kawasan ini akan berlaku untuk semua pihak atau tidak berlaku bagi siapa pun," kata Garda Revolusi Iran.

Ancaman dari Garda Revolusi Iran tersebut sempat mendorong harga minyak mentah Brent melonjak menembus level USD86 per barel sebelum akhirnya ditutup pada posisi USD84,95 per barel.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author