Arkeolog Ungkap Penemuan Bukti Transaksi Bir Berusia 4.000 Tahun
Aktivitas jual beli bir ternyata telah berlangsung sejak 4.000 tahun silam. Bukti sejarah ini terungkap melalui penemuan dokumen kuno dari peradaban masa lalu.
Sebuah tanda terima dari era Mesopotamia berhasil diidentifikasi oleh para ahli, sebagaimana dilansir dari Detik Food. Artefak berbentuk persegi panjang berbahan tanah liat tersebut awalnya hanya dikoleksi sebagai benda museum biasa.
Hasil penelitian mendalam memastikan bahwa objek tersebut merupakan tablet bukti transaksi bir dari sekitar tahun 2.000 SM. Dokumen kuno ini dipahat menggunakan aksara paku yang menjadi sistem tulisan khas masyarakat Mesopotamia.
Masyarakat Mesopotamia tidak sekadar mengonsumsi bir sebagai minuman pereda lelah. Minuman ini memegang peranan krusial dalam dinamika sosial, ritual keagamaan, hingga konsumsi harian berbagai lapisan masyarakat.
Terbuat dari bahan dasar seperti jelai, bir diposisikan sebagai salah satu sumber asupan nutrisi. Keberadaan resi penjualan ini menegaskan bahwa proses pembuatan serta pemasarannya telah dikelola secara terstruktur.
Tingginya nilai ekonomi minuman tersebut membuat setiap transaksi wajib dicatat secara resmi. Catatan ini menjadi bukti nyata perkembangan sistem perdagangan bahan pangan di kota-kota awal peradaban Mesopotamia.
Temuan ini kian memperkuat catatan bahwa bir termasuk dalam jajaran minuman tertua di dunia. Keberadaan sosok dewi pembuat bir bernama Ninkasi bahkan termuat dalam beberapa literatur kuno Mesopotamia.
Karakteristik Bir Masa Lampau
Profil rasa bir pada zaman kuno diperkirakan amat berbeda dibanding produk modern. Para peneliti menduga teksturnya cenderung kental, rendah soda, serta diolah dari adonan roti dan jelai yang difermentasi.
Karakteristiknya dinilai lebih menyerupai olahan bubur cair daripada minuman beralkohol masa kini. Sejumlah artefak terkait lainnya masih berada dalam tahap penelitian lanjut oleh para arkeolog.