Penjaga Pantai China Pukul Personel Militer Filipina Pakai Tongkat

Share

Militer Filipina melaporkan insiden bentrokan terbaru dengan Penjaga Pantai China di Second Thomas Shoal, Kepulauan Spratly, pada Senin (20/7/2026), yang mengakibatkan seorang personel militer Filipina terluka akibat dipukul menggunakan tongkat kayu, sebagaimana dilansir dari Detikcom. Ketegangan bermula ketika sebuah perahu karet jenis rigid-hull milik China yang membawa delapan orang mengitari serta mengambil foto BRP Sierra Madre, kapal era Perang Dunia II yang sengaja didamparkan Filipina sebagai pos garnisun militer di perairan sengketa tersebut. Pihak Filipina kemudian mengerahkan dua perahu karet untuk mengusir armada Beijing itu, tetapi personel China merespons dengan aksi kekerasan terhadap prajurit Manila.

"Mereka bereaksi secara kasar dan agresif, dengan memukul kepala seorang personel Angkatan Laut Filipina menggunakan tongkat kayu, yang menyebabkan cedera," kata militer Filipina dalam pernyataannya.

Pemerintah maupun militer China belum memberikan tanggapan resmi mengenai peristiwa penganiayaan personel militer Filipina di area sengketa tersebut. Konfrontasi fisik ini terjadi berselang seminggu setelah Manila melayangkan protes diplomatik keras atas video kecerdasan buatan (AI) buatan media pemerintah China Daily yang menggambarkan Filipina sebagai animasi monyet.

Protes atas konten ofensif tersebut disampaikan langsung oleh Wakil Menteri Luar Negeri Filipina, Leo Herrera-Lim, saat bertemu dengan Duta Besar China untuk Filipina, Jing Quan, pada Kamis (16/7/2026). "(Herrera-Lim) Menuntut agar materi tersebut dihapus, menekankan bahwa konten seperti itu tidak sejalan dengan sikap saling menghormati yang diharapkan antar negara dan tidak mendukung pengelola hubungan bilateral yang sehat dan stabil," demikian pernyataan Departemen Luar Negeri Filipina.

Mengenai unggahan video rasis buatan media pemerintah tersebut, perwakilan Beijing enggan memberikan klarifikasi resmi lebih lanjut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, dalam tanggapannya, mengatakan Beijing tidak akan berkomentar mengenai video tersebut karena itu "tidak mencerminkan posisi resmi".

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author