Menlu Iran Tegaskan Teheran Tak Bisa Dipaksa Tunduk Tekanan AS

Share

Ancaman serta tekanan militer Amerika Serikat dinilai tidak akan mampu memaksa Iran untuk tunduk. Hal tersebut ditegaskan oleh Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebagaimana dilansir dari Detikcom pada Senin (20/7/2026).

Pernyataan itu disampaikan Araghchi saat menepis klaim Washington. Menurutnya, kondisi geopolitik dan sistem pemerintahan yang dimiliki Iran sangat berbeda jika dibandingkan dengan Venezuela.

Sikap keras Iran ini mengemuka dalam sesi wawancara bersama media Mehr News Agency yang turut diberitakan NDTV serta The Times of India. Araghchi menyinggung peristiwa di Venezuela pada Januari lalu.

Pada periode tersebut, AS memaksakan pergantian rezim melalui tindakan penangkapan terhadap Presiden Nicolas Maduro lewat operasi militer. Namun, skenario serupa dinilai tidak akan berlaku bagi Teheran.

Republik Islam Iran tidak mengandalkan sistem kekuasaan tunggal. Oleh karena itu, tindakan menyingkirkan satu figur pemimpin tidak akan serta-merta meruntuhkan tatanan pemerintahan di negara tersebut.

"Ini bukan Venezuela, di mana ketika Anda menangkap satu orang, kemudian semua orang menjadi takut dan mundur," kata Araghchi.

Ia merujuk pada konsep kekuasaan "mosaik" yang diterapkan di Iran. Sistem ini mendiversifikasi seluruh proses pengambilan keputusan penting di bawah naungan kepemimpinan terpadu.

Selain itu, Araghchi mengungkapkan potensi bahaya besar yang senantiasa membayangi tim negosiator Iran saat menjalani dialog damai bersama pihak AS.

Ia menceritakan momen pembicaraannya dengan Steve Witkoff. Figur tersebut merupakan utusan khusus Presiden AS Donald Trump untuk kawasan Timur Tengah sekaligus negosiator utama dari Washington.

"Saya bertanya kepada Witkoff, 'Pernahkah Anda berada dalam sebuah pertemuan di mana Anda merasa bahwa sewaktu-waktu seluruh pertemuan itu bisa saja dibom?' Mereka hanya menatap saya dengan tatapan kosong," ucap Araghchi.

Wawancara Araghchi tersebut juga disiarkan oleh saluran media Rusia, RT. Ia membeberkan tekanan psikologis serta risiko fisik yang terus menghantui para diplomat Iran.

"Saya berkata, 'Pernahkah Anda sedang berbicara di telepon, dan berpikir bahwa, seperti kata orang, Anda bisa saja meledak atau hancur seketika? Pernahkah Anda, misalnya, ketika menelepon untuk menanyakan kondisi keluarga Anda, berpikir dalam hati bahwa ini mungkin terakhir kalinya Anda bisa melakukannya?' Kami mengalami hal-hal semacam itu, namun kami tetap teguh pada pendirian kami," ujarnya.

Kendati dibayangi ancaman keselamatan secara terus-menerus, pihak Teheran menolak keras untuk menyerah. Araghchi membocorkan bahwa AS sebenarnya pihak yang pertama kali membuka kontak perundingan.

Inisiatif komunikasi mengenai program nuklir tersebut dimulai Washington sejak tahun lalu. Kedua belah pihak pun sempat menjalin komunikasi secara berkala setelah penjangkauan awal tersebut.

"Menanggapi tuntutan ilegal dan tidak beralasan untuk menghentikan total pengayaan uranium, kami melawan dan tetap teguh. Ketika mereka menyadari bahwa mereka tidak bisa mencapai tujuan mereka melalui perundingan, mereka memulai perang," sebutnya.

"Anda seharusnya berbicara dengan cara yang berbeda kepada kami. Anda tidak bisa mengancam kami, dan Anda tidak bisa menyuap kami," tegas Araghchi.

Pihak Washington sempat menawarkan imbalan berupa proyek pembangunan infrastruktur dan pembangkit listrik. Penawaran itu disodorkan agar Iran mau memberikan konsesi tertentu dalam dialog diplomasi.

Namun tawaran kompensasi tersebut ditolak mentah-mentah oleh pihak Teheran. Araghchi menegaskan kembali posisi prinsipil yang dipegang teguh oleh jajaran kepemimpinan negaranya.

"Saya mengatakan tidak ada suap, tidak ada ancaman. Anda hanya bisa mengancam orang yang merasa takut. Ketika kami melangkah maju, dengan kesadaran penuh bahwa apa pun bisa terjadi pada kami kapan saja, Anda tidak bisa menakut-nakuti saya," ucapnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author