Stres Picu Perubahan Bau Badan Menjadi Lebih Menyengat
Tekanan emosional dan stres ternyata tidak hanya memengaruhi suasana hati, melainkan juga memicu perubahan aroma tubuh. Perubahan ini terjadi karena respons alami tubuh saat menghadapi kecemasan atau tekanan. Seperti dilansir dari HaiBunda yang mengutip Time, aroma tubuh menyimpan informasi mengenai kondisi kesehatan hingga tingkat kecemasan seseorang.
Perubahan bau badan ini dipengaruhi oleh jenis keringat yang dihasilkan saat mengalami tekanan emosional. Sistem saraf simpatik akan mengaktifkan mekanisme fight or flight saat seseorang merasa cemas atau takut. Respons ini merangsang kelenjar apokrin di area ketiak dan selangkangan untuk memproduksi keringat.
Kondisi ini berbeda dengan kelenjar ekrin yang tersebar di seluruh tubuh untuk menurunkan suhu saat kepanasan. Keringat dari kelenjar ekrin cenderung lebih encer.
Sebaliknya, keringat dari kelenjar apokrin mengandung lebih banyak lemak dan protein. Keringat ini sebenarnya tidak memiliki aroma pada awalnya. Aroma khas yang tajam baru muncul ketika cairan tersebut bercampur dengan bakteri alami di permukaan kulit. Bakteri kemudian menguraikan kandungan protein dan lemak tersebut.
Terdapat beberapa indikator yang membedakan bau badan akibat stres dengan keringat biasa. Aroma tubuh bisa tiba-tiba menyengat saat menghadapi tumpukan pekerjaan, presentasi, atau konflik pribadi. Munculnya bau badan ini juga dapat terjadi meski seseorang tidak banyak bergerak fisik. Kelenjar apokrin tetap aktif memproduksi keringat walaupun Anda hanya duduk bekerja atau sedang berpikir keras.
Aroma yang dihasilkan cenderung terasa berbeda dan lebih tajam daripada keringat akibat cuaca panas. Hal ini terjadi karena tingginya kadar lemak yang dipecah oleh bakteri kulit. Perubahan aroma ini biasanya muncul bersamaan dengan tanda stres lain. Gejala penyerta tersebut meliputi jantung berdebar, telapak tangan berkeringat, sulit tidur, hingga kecemasan berlebihan.
Temuan Ilmiah Terkait Aroma Tubuh dan Emosi
Para ilmuwan menemukan fakta bahwa manusia dapat mengenali aroma yang muncul dari orang yang sedang ketakutan. Dalam sebuah studi, peserta mampu membedakan keringat orang yang menonton film horor dengan penonton film dokumenter.
Penelitian lain yang dipimpin Prof. Mats Olsson dari Karolinska Institutet menunjukkan aroma tubuh juga berubah saat sistem imun aktif. Peneliti menguji hal ini dengan menyuntikkan endotoksin dari bakteri Escherichia coli untuk memicu respons imun.
Kaus yang dipakai peserta kemudian dinilai oleh panel pencium. Hasilnya, aroma tubuh dari peserta dengan sistem imun yang aktif dinilai lebih tidak menyenangkan dibandingkan kondisi normal. Meski demikian, perubahan aroma tubuh tidak selalu bersumber dari stres emosional.
Faktor lain seperti konsumsi makanan, fluktuasi hormon, konsumsi obat-obatan, hingga penyakit kronis seperti diabetes dan gangguan hati juga turut berpengaruh.