Pengusaha Supermarket Filipina Peringatkan Potensi Kenaikan Harga Barang
Asosiasi Supermarket Gabungan Filipina memperingatkan masyarakat mengenai potensi lonjakan harga barang eceran akibat akumulasi tekanan biaya operasional dari kenaikan harga bahan bakar minyak, tarif listrik, upah minimum, dan nilai tukar dolar.
Presiden Asosiasi Supermarket Gabungan Filipina (PAGASA), Steven Cua, menyampaikan perkiraan peningkatan biaya operasional tersebut saat diwawancarai dalam program Unang Balita di GMA pada Jumat.
“Inaasahan natin, talagang tataas ang presyo ng mga bilihin. Hindi lang dahil sa oil price hike. Tandaan mo, there’s a minimum wage hike very soon, and then electric costs are going to go up also, and then dollar-exchange rate for the imported raw materials. So, for sure, tataas ang presyo ng mga bilihin,” kata Steven Cua, Presiden Asosiasi Supermarket Gabungan Filipina (PAGASA).
Ia menjelaskan bahwa pengiriman bahan makanan segar akan langsung terdampak kenaikan harga BBM karena lonjakan biaya distribusi terasa secara mendadak di rantai pasokan.
“Yung agad-agad siyempre… yung delivery ng mga fresh produce. Kasi mararamdaman kaagad ’yun,” kata Steven Cua, Presiden Asosiasi Supermarket Gabungan Filipina (PAGASA).
Adapun penyesuaian harga untuk produk makanan olahan dan manufaktur diperkirakan membutuhkan waktu beberapa minggu seiring adaptasi pelaku usaha terhadap tingginya beban operasional.
“We’re not talking about how to make ends meet, but we’re talking about survival. Survival mode na talaga,” kata Steven Cua, Presiden Asosiasi Supermarket Gabungan Filipina (PAGASA).
Cua memproyeksikan total peningkatan biaya bisnis berada di kisaran 7 hingga 9,5 persen tergantung pada jenis usaha dan variabel pengeluaran masing-masing.
“I’d say around 7, maybe even 9.5%,” kata Steven Cua, Presiden Asosiasi Supermarket Gabungan Filipina (PAGASA).
Pihak ritel atau supermarket tidak memerlukan izin khusus dari pemerintah untuk menaikkan harga eceran, sehingga pengusaha berpotensi langsung meneruskan beban biaya tersebut kepada konsumen.
“Well, supermarkets will have no need to ask for price increase… we’ll have to increase without asking any permission,” kata Steven Cua, Presiden Asosiasi Supermarket Gabungan Filipina (PAGASA).
Tekanan bertubi-tubi dari kenaikan gaji dan operasional dinilai berisiko menghentikan kegiatan usaha skala kecil dan menengah yang tidak mampu bertahan.
“It’s a done deal na talagang kailangan magtaas na ng salaries… Ito pa dadagdagan mo pa ulit, talagang suntok na, kumbaga one-two punch na, so medyo mabigat na,” kata Steven Cua, Presiden Asosiasi Supermarket Gabungan Filipina (PAGASA).
Ancaman penutupan bisnis ritel kecil tersebut diperkirakan kian nyata jika gelombang kenaikan biaya berlanjut pada periode berikutnya.
“And then January, another increase… I’m afraid it will lead to the closing of the smaller enterprises, or businesses, not just supermarkets,” kata Steven Cua, Presiden Asosiasi Supermarket Gabungan Filipina (PAGASA).
Sementara itu, Departemen Perdagangan dan Industri Filipina mengonfirmasi belum menerima permohonan penyesuaian harga dari para produsen di tengah ancaman kenaikan harga BBM tersebut, dilansir dari GMA News.