Indeks Kospi Korea Selatan Anjlok Akibat Tekanan Suku Bunga dan AI
Indeks saham utama Korea Selatan, Kospi, merosot 468,81 poin atau 6,31 persen ke level 6.820 pada perdagangan Kamis (16/7/2026). Penurunan tajam ini dipicu oleh kenaikan suku bunga moneter, aksi jual saham semikonduktor kecerdasan buatan (AI), serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Koreksi mendalam di bursa Seoul terjadi seiring langkah Bank of Korea yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 2,75 persen untuk meredam inflasi sebesar 3,2 persen dan mengendalikan utang rumah tangga. Selain itu, fluktuasi tajam pasar saham Korea Selatan turut dipengaruhi oleh aksi rebalancing pada produk exchange traded fund (ETF) leverage berbasis saham tunggal.
Rata-rata volatilitas intraday Kospi pada periode 1 hingga 16 Juli 2026 mencatatkan rekor tertinggi sebesar 6,75 persen, melampaui rekor krisis keuangan global 2008 sebesar 6,11 persen dan krisis moneter Asia 1997 sebesar 5,37 persen. Indikator kecemasan pasar VKOSPI juga sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di level 96,94 pada akhir bulan lalu sebelum berada di posisi 87,14.
Tekanan utama pada indeks berasal dari kejatuhan saham-saham raksasa semikonduktor yang memegang bobot dominan. Saham SK Hynix terperosok hingga 12 persen dan Samsung Electronics merosot sekitar 9 persen pada perdagangan Kamis, setelah saham teknologi di Wall Street seperti SanDisk dan Micron turun lebih dari 8 persen.
Regulator keuangan Korea Selatan mulai menyoroti risiko volatilitas yang ditimbulkan oleh produk ETF leverage berbasis saham tunggal yang berfokus pada Samsung Electronics dan SK Hynix.
"Ini pada dasarnya adalah produk berisiko tinggi," kata Lee Eog-weon, Ketua Financial Services Commission (FSC).
Lee menambahkan bahwa otoritas telah memberikan pemahaman kepada publik terkait potensi bahaya instrumen tersebut.
"Kami telah menjelaskan risikonya kepada investor," kata Lee.
Di sisi lain, investor global cenderung menyikapi laporan keuangan pembuat chip TSMC yang mencatatkan pertumbuhan laba 77 persen secara kritis karena ekspektasi pasar yang terlampau tinggi terhadap sektor AI.
"Saat Anda memiliki banyak optimisme di pasar, Anda membutuhkan segalanya berjalan dengan benar. Setiap kabar negatif dapat memukul pasar," kata Tony Welch, Chief Investment Officer at SignatureFD.
Welch menegaskan bahwa ekspektasi tinggi menciptakan tantangan tersendiri bagi pergerakan harga saham di bursa global.
"Ada banyak kepercayaan yang terbangun saat ini. Ini bukan hal yang buruk, tetapi hal itu menciptakan batas yang tinggi bagi harga pasar untuk terus naik lebih tinggi," kata Welch.
Pasar finansial global menilai perubahan cara pandang investor terhadap sektor AI turut mempercepat aksi lepas saham berbobot besar.
"Itu memberi tahu Anda bahwa perdagangan AI tidak lagi dinilai berdasarkan pertumbuhan. Itu dinilai berdasarkan kesempurnaan. Setiap laporan laba yang hanya bagus, bukan tanpa cela, bakal dijual," kata Gene Goldman, Chief Investment Officer at Cetera in El Segundo, California.
Para analis domestik menilai aksi jual panik investor dipicu oleh kombinasi ketiadaan pembeli bersih yang konsisten serta kepanikan dari instrumen leverage.
"Baru-baru ini, investor menunjukkan kecenderungan untuk melakukan panic-selling dengan alasan sekecil apa pun," kata Lee Jae-won, Analyst at Yuanta Securities.
Lee menjelaskan bahwa kejatuhan harga telah membawa penilaian pasar ke level yang sangat rendah.
"Volatilitas yang berasal dari ETF leverage dan tidak adanya kekuatan beli bersih yang konsisten telah menyebabkan indeks merosot ke valuasi di bawah level yang terlihat selama krisis keuangan," kata Lee Jae-won.
Meskipun demikian, penurunan harga saham dinilai mulai mereda seiring penyesuaian posisi portofolio yang berjalan.
"Dengan penurunan indeks yang melebihi 20% sejak pertengahan bulan lalu, volatilitas yang dipicu oleh ketidakseimbangan posisi telah sebagian terserap," kata Seo Jeong-hoon, Analyst at Samsung Securities.
Seo memproyeksikan bahwa penurunan harga saat ini lebih mencerminkan koreksi teknis daripada penurunan fundamental emiten.
"Mengingat estimasi laba tetap kuat, adalah wajar untuk melihat penurunan baru-baru ini sebagai proses mean-reversion daripada pergeseran dalam ekspektasi laba," kata Seo Jeong-hoon.
Ia juga mengingatkan agar pelaku pasar tidak merespons pengurangan posisi ambil untung secara berlebihan.
"Menerjemahkan pembongkaran posisi profit-taking sebagai penurunan kondisi industri jelas merupakan kekhawatiran yang berlebihan," kata Seo Jeong-hoon.
Seo menambahkan bahwa revisi naik terhadap proyeksi kinerja perusahaan menunjukkan dasar bisnis yang masih solid.
"Fakta bahwa estimasi laba direvisi ke atas bahkan selama periode volatilitas harga yang ekstrim menunjukkan visibilitas dan keandalan laba yang tinggi, sehingga investor harus fokus pada fundamental," kata Seo Jeong-hoon.
Pada perdagangan Senin (20/7/2026) pagi pukul 09.19 KST, indeks Kospi dibuka melemah 35,41 poin atau 0,52 persen ke posisi 6.785,19, meskipun saham Samsung Electronics bergerak naik 0,39 persen dan SK Hynix menguat 1,79 persen. Penurunan bursa juga dipengaruhi oleh lonjakan harga minyak mentah Brent ke level 88,10 dolar AS per barel akibat eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Timur Tengah.