Pemerintah New Jersey Kritik FIFA Jual Rumput Stadion MetLife
Pemerintah New Jersey melayangkan kritik keras terhadap langkah FIFA yang menjual suvenir unik berupa potongan rumput asli Stadion MetLife di East Rutherford setelah laga final Piala Dunia 2026 bergulir, seperti dilansir dari Detik Travel pada Senin (20/7/2026).
Federasi sepak bola internasional tersebut mematok harga potongan lapangan mulai dari USD 450 atau sekitar Rp 8 jutaan. FIFA juga menyediakan tiga versi tambahan dengan harga mencapai USD 900 atau Rp 16 jutaan, USD 1.200 atau Rp 16,5 juta, serta varian tertinggi seharga USD 3.000 atau Rp 53,9 juta.
Setiap varian suvenir yang dilapisi resin ini diproduksi terbatas sebanyak 2.026 buah. Melalui penjualan properti yang dirawat menggunakan uang pajak tersebut, FIFA berpotensi meraup pendapatan total hingga lebih dari USD 11,2 juta atau berkisar Rp 201 miliar.
Otoritas Olahraga dan Pameran New Jersey (NJSEA) selaku pengelola Kompleks Olahraga Meadowlands tercatat mengeluarkan dana sebesar USD 13,04 juta atau Rp 240,9 miliar demi memenuhi standar lapangan FIFA. Alokasi dana publik itu digunakan untuk pekerjaan desain, konstruksi, peralatan, hingga pemeliharaan lapangan markas klub NFL New York Giants dan New York Jets tersebut.
Pemerintah setempat menegaskan hak para pembayar pajak atas keuntungan komersial yang diambil oleh badan sepak bola dunia tersebut.
"Seperti yang telah dikatakan Gubernur bahwa New Jersey telah membayar jutaan dolar untuk total biaya lapangan di Stadion MetLife. Jadi, wajib pajak New Jersey seharusnya mendapat bagian dari setiap keuntungan yang diperoleh," kata Steve Sigmund, juru bicara Gubernur Mikie Sherrill.
Penolakan serupa muncul dari jajaran legislatif negara bagian yang menilai tindakan sepihak komite penyelenggara telah melanggar hukum properti negara.
"Para wajib pajak New Jersey mendanai pemeliharaan dan peningkatan kualitas Stadion MetLife hingga USD 13 juta, termasuk mengganti rumput sintetis dengan rumput alami. Selain itu, Otoritas Olahraga dan Pameran New Jersey memegang hak sewa lahan stadion. Ini adalah properti milik negara. FIFA tidak bisa begitu saja menjual lapangan sepak bola tanpa izin," kata Mike Inganamort, anggota Dewan Perwakilan Rakyat.
Inganamort mendesak tindakan hukum yang tegas demi menghentikan proses komersialisasi aset publik yang sedang berlangsung tersebut.
"Apa yang terjadi bukan hanya transaksi buruk bagi para pembayar pajak New Jersey, tetapi juga ilegal. Pemerintahan Sherrill harus menggunakan setiap cara yang mereka miliki untuk menghentikan FIFA menjual lapangan kami, termasuk mengajukan perintah penahanan," dia menambahkan.
Penjualan seluruh potongan rumput dinilai wajib mematuhi regulasi penjualan aset daerah karena proses penanamannya dibiayai penuh oleh masyarakat setempat. Hingga saat ini, tuntutan agar hasil penjualan mengalir ke kas negara bagian masih terus disuarakan oleh para pejabat New Jersey.