MenPAN-RB dan Kepala BKN Beri Pesan Terbuka untuk Seluruh ASN
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN-RB) Rini Widyantini bersama Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) Zudan Arif Fakrulloh menyampaikan pesan terbuka melalui media sosial kepada seluruh aparatur sipil negara (ASN) se-Indonesia setelah menghadiri rapat kerja bersama Komisi II DPR yang membahas indikator kinerja birokrasi, sebagaimana dilansir dari Detikcom pada Minggu (19/7/2026).
Unggahan tersebut bermula dari surat tertulis tangan yang dibagikan oleh Rini Widyantini melalui akun Instagram pribadinya pada Sabtu (17/7/2026), yang kemudian disusul oleh pesan khusus dari Zudan Arif Fakrulloh untuk mengapresiasi serta menguatkan integritas para pegawai pemerintahan.
Langkah kedua pimpinan instansi kepegawaian ini memberikan tanggapan tidak langsung atas sorotan tajam dari parlemen mengenai performa dan mentalitas pelayanan publik.
Dalam unggahan di media sosialnya, Rini Widyantini menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas dedikasi harian para pegawai dalam melayani masyarakat luas.
"Untuk seluruh ASN yang saya cintain dan banggakan. Melalui pesan ini, saya ingin menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada seluruh ASN yang setiap hari terus bekerja melayani masyarakat," kata Rini Widyantini, Menteri PAN-RB.
Rini Widyantini mengingatkan agar setiap aparatur tetap menjaga semangat pengabdian serta integritas kerja meskipun tindakan mereka tidak selalu terlihat oleh publik.
"Teruslah menjaga integritas, menguatkan semangat pengabdian dan menjadi kebanggaan Indonesia," ujarnya Rini Widyantini, Menteri PAN-RB.
Melalui surat tertulis tersebut, Rini Widyantini juga merefleksikan tantangan berat yang dihadapi pegawai di lapangan serta pentingnya nilai profesionalisme dalam birokrasi.
"Kepada seluruh Aparatur Sipil Negara di penjuru Indonesia, yang saya cintai dan banggakan Hari ini saya ingin menyapa anda sebagai sesama manusia yang sedang mengemban amanah besar. Saya tahu, tidak semua hari terasa mudah. Ada yang bekerja dengan keterbatasan.
Ada yang menghadapi ekspektasi masyarakat yang tinggi. Ada yang harus tetap tersenyum melayani, meskipun sedang menyimpan lelah, rindu keluarga, atau persoalan pribadi. Namun setiap pagi, Anda tetap mengenakan seragam Pengabdian.
Tetap membuka ruang pelayanan. Tetap menjawab kebutuhan masyarakat. Tetap hadir.
Dan ketahuilah, kehadiran itu berarti amanah dan ibadah. Mungkin tidak semua kerja keras Anda mendapat tepuk tangan. Mungkin tidak semua pengorbanan menjadi berita.
Namun setiap anak yang mendapat pendidikan lebih baik, setiap pasien yang dilayani dengan tulus, setiap bantuan yang sampai kepada masyarakat, setiap jalan yang dibangun, setiap data yang dikelola dengan benar, semuanya adalah wajah nyata negara yang bekerja. Negara hadir melalui tangan-tangan Anda. Di tengah berbagai tantangan dan juga peluang lompatan besar Indonesia yang kita hadapi hari ini, saya ingin mengajak kita semua tetap fokus arah untuk menjalankan amanah besar dari Negara yang kita cintai..
Tantangan jadikan booster untuk terus semangat melayani. Justru saat tantangan besarlah profesionalisme dibuktikan, dan pengabdian menemukan maknanya. Sejarah bangsa ini tidak dibangun oleh mereka yang bekerja hanya ketika keadaan mudah.
Sejarah dibangun oleh mereka yang tetap berdiri, tetap bekerja, dan tetap percaya bahwa kebaikan yang dilakukan hari ini akan menjadi warisan bagi generasi berikutnya Saya percaya masih sangat banyak aparatur yang bekerja dalam diam, tanpa sorotan, tanpa pujian, tetapi dengan dedikasi yang luar biasa. Mereka adalah wajah Indonesia yang sesungguhnya. Teruslah menjadi ASN yang berAKHLAK.
Teruslah menjaga integritas, meningkatkan kompetensi, saling menguatkan, dan menghadirkan pelayanan yang semakin berkualitas. Semangat Bangga Melayani Bangsa menjadi fondasi budaya bekerja ASN dalam memberikan pelayanan terbaik kepada bangsa dan negara kita tercinta. Mari kita buktikan bahwa birokrasi bukan sekedar menjalankan administrasi, tetapi menjadi kekuatan yang menghadirkan harapan.
Terima kasih atas dedikasi, kesabaran dan ketulusan Anda semua. Tetaplah menjadi cahaya. Tetaplah melayani, bahkan ketika tidak semua orang melihat.
Karena Indonesia yang maju tidak lahir dari kerja satu orang, tapi dari jutaan ASN yang memilih untuk tetap mengabdi dengan hati," kata Rini Widyantini, Menteri PAN-RB.
Sementara itu, Kepala BKN Zudan Arif Fakrulloh turut membagikan pesan yang menekankan peran jutaan pegawai yang bekerja demi memastikan kehadiran negara di berbagai sektor pelayanan.
"Melalui pesan ini, Kepala BKN Prof. Zudan mengajak kita untuk menyadari bahwa mulai dari ruang kelas, puskesmas, laboratorium, kantor pelayanan, hingga lapangan, jutaan ASN bekerja dalam senyap demi memastikan negara terus hadir untuk masyarakat. 6,7 juta ASN, 6,7 juta cara mencintai Indonesia," tulis keterangan unggahan BKN.
Zudan Arif Fakrulloh menambahkan bahwa kontribusi nyata para guru, tenaga kesehatan, hingga aparat lapangan merupakan komponen utama yang menjaga keberlangsungan bangsa.
"Pengabdian yang sunyi, bangsa yang bertumbuh. Tak semua karya ASN disorot lampu panggung. Namun di ruang kelas yang sunyi, di balik meja pelayanan, di setiap laporan yang diteliti dengan saksama di situlah denyut sebuah bangsa dijaga tetap hidup," kata Zudan Arif Fakrulloh, Kepala BKN.
Zudan Arif Fakrulloh menutup pesannya dengan memberikan dorongan moral keagamaan bagi para aparatur yang bekerja dengan tulus di seluruh wilayah Indonesia.
"Guru, bidan, Satpol PP, peneliti, perawat, dokter, dan lainnya. 6,7 juta ASN adalah 6,7 juta cara mencintai Indonesia. Melangkahlah, Allah SWT meridhoi setiap karya yang tulus untuk negeri," kata Zudan Arif Fakrulloh, Kepala BKN.
Sebelum gelombang pesan terbuka ini muncul, Ketua Komisi II DPR RI Muhammad Rifqinizamy Karsayuda sempat memberikan kritik keras terkait produktivitas dan alokasi anggaran belanja pegawai dalam rapat kerja di Senayan pada Rabu (15/7/2026).
Rifqinizamy Karsayuda meminta adanya peningkatan indikator kinerja kunci (KPI) untuk mengevaluasi efektivitas seluruh lapisan birokrasi, termasuk PNS dan PPPK.
"Kita ke depan mungkin, Ibu MenPAN-RB dan Bapak Ibu sekalian yang hadir di ruangan ini, perlu meningkatkan sedikit KPI (key performance indicator) kepada seluruh birokrasi kita, ASN kita, apakah itu pegawai negeri sipil (PNS) termasuk pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK)," ujar Muhammad Rifqinizamy Karsayuda, Ketua Komisi II DPR RI.
Politikus Partai NasDem tersebut menyoroti bahwa penerapan sistem digital belum berhasil mengubah mentalitas dasar dari sebagian besar sumber daya manusia di birokrasi.
"Ekosistem digitalnya belum berubah, mentalitas sumber daya manusianya nggak berubah, masih ngabsen, pulang, ngopi, sore ngabsen lagi," kata Muhammad Rifqinizamy Karsayuda, Ketua Komisi II DPR RI.
Rifqinizamy Karsayuda juga mengingatkan dampak dari besarnya pengeluaran gaji pegawai terhadap ruang fiskal daerah yang dapat mengorbankan pembangunan fasilitas publik mendasar.
"Kalau kita pertahankan terus, kita memanusiakan para ASN, termasuk PPPK di dalamnya, tapi pada sisi yang lain kita sedang zalim dengan rakyat yang lebih membutuhkan. Sekolah nggak bisa diperbaiki, kesehatan nggak bisa diurus, jalan rusak nggak bisa kita apa-apain," tutur Muhammad Rifqinizamy Karsayuda, Ketua Komisi II DPR RI.