Kementerian ESDM Buka Opsi Impor Tabung CNG 3 Kg dari China

Share

Rencana pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk mendatangkan tabung gas alam terkompresi atau compressed natural gas (CNG) 3 kg dari luar negeri dinilai masih wajar untuk fase awal. Langkah ini diambil sebagai bagian dari proyek percontohan dalam negeri.

Dikutip dari Bloomberg Technoz, praktisi senior industri minyak dan gas (migas) Hadi Ismoyo menjelaskan bahwa impor tahap pertama tersebut dapat diterima karena mempertimbangkan masa pakai material. Menurutnya, aspek ketahanan komoditas ini menjadi alasan utama kebijakan tersebut bisa dimaklumi.

"Impor tabung CNG ini hanya sekali dan bisa dipakai selama 20 tahun, kalau sesuai umur material tersertifikasi tersebut. Jadi langkah pemerintah mengimpor tabung CNG sebanyak 100.000 untuk pilot project sangat bisa dimaklumi," ungkap Ismoyo saat dihubungi, Senin (25/05/2026).

Meskipun demikian, Ismoyo memberikan catatan bahwa agenda ini menjadi indikator belum kuatnya industri manufaktur domestik. Sektor lokal dinilai belum mampu memproduksi tabung ukuran kecil dalam volume terbatas dengan tenggat waktu yang singkat.

"Desain sudah ada, tetapi tidak ada pabrik yang mau membuat CNG tabung [3 kg] hanya 100.000 di dalam negeri. Lebih efisien impor. Jika pilot project bisa dipastikan sukses dan pemerintah sudah yakin bahwa tabung CNG aman, maka program akan di-scale up menjadi lebih besar," terangnya.

Pandangan serupa datang dari Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Sofyano Zakaria yang menilai publik dapat memaklumi pengadaan 100.000 tabung CNG 3 kg yang kemungkinan besar berasal dari China ini. Namun, hal itu dengan syarat pemerintah menempatkannya sebagai masa transisi dan bukan kebijakan permanen.

"Tujuan menekan impor LPG memang penting, tetapi publik wajar mempertanyakan: jangan sampai pengurangan impor energi justru digantikan oleh ketergantungan impor baru dalam bentuk tabung. Untuk itu, pemerintah perlu transparan soal alasan impor, kebutuhan awal, standar keselamatan, harga, serta peta jalan produksi dalam negeri," jelasnya.

Sofyano juga menyoroti keterbatasan manufaktur nasional saat ini, terutama dalam memproduksi tabung CNG komposit serat karbon tipe 4 secara cepat dan massal demi mendukung program tersebut.

"Jika memang teknologi, kapasitas produksi, dan sertifikasi keselamatan belum tersedia, impor awal dapat dipahami. Namun, harus disertai transfer teknologi, keterlostan industri lokal, dan target substitusi impor yang jelas," ungkapnya.

Kebijakan mendatangkan tabung dari luar negeri berpotensi memengaruhi harga jual di tingkat konsumen akhir. Komponen tabung komposit serat karbon memiliki nilai yang cukup tinggi di pasar dan rentan terhadap fluktuasi variabel eksternal.

"Jika biaya tabung tinggi, pemerintah harus memastikan skema harga tidak membebani konsumen, terutama rumah tangga kecil, serta tidak menciptakan subsidi baru yang justru memberatkan fiskal," tutur Sofyano.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman menyampaikan bahwa teknologi pengembangan tabung CNG 3 kg saat ini dikuasai oleh China. Faktor ini membuka peluang besar pengadaan awal berasal dari negara tersebut.

Laode menegaskan bahwa kebijakan mendatangkan tabung dari luar negeri hanya berlaku pada fase awal masifikasi karena industri domestik belum menguasai aspek teknisnya.

"Kan ini teknologinya tinggi. Saat ini yang mampu membuat teknologi itu di luar ya, kita belum. Akan tetapi, kalau skalanya sudah masif, bisa nanti kita alihkan ke dalam," kata Laode kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Senin (18/5/2026).

"Ya China. Banyak sih negara yang ini, tetapi kita sejauh ini China. Iya [ada potensi impor dari China], seperti itu. Tahap awal ya," tegas dia.

Peta Jaringan Niaga CNG Domestik

Merujuk pada data resmi Kementerian ESDM, Indonesia saat ini memiliki 53 badan usaha yang bergerak di bidang niaga CNG. Salah satu pemain utamanya adalah PT Gagas Energi Indonesia yang merupakan anak usaha dari PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) atau PGN.

Saat ini, PGN Gagas mengelola 14 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) yang tersebar di 7 provinsi. Fasilitas ini melayani pengisian rata-rata sekitar 2.200 kendaraan setiap hari melalui layanan Gasku.

Pada segmen industri, perusahaan telah melayani lebih dari 600 pelanggan dengan volume penyaluran mencapai 4.067.002 million british thermal unit (MMBtu) sepanjang tahun 2025.

Direktur Utama PGN Gagas Santiaji Gunawan mengungkapkan pada tahun lalu perseroan menyalurkan 4,6 juta MMBtu gas bumi melalui layanan CNG dan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG).

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author