Ibu Terjebak Reruntuhan Gempa Venezuela Melahirkan Bayi Perempuan

Share

Sebuah kisah mengharukan datang dari tengah bencana gempa bumi dahsyat yang mengguncang wilayah pesisir utara Venezuela pada 24 Juni 2026. Seorang ibu berhasil melahirkan bayinya dengan selamat ketika masih terjebak di bawah puing bangunan roboh.

Kelahiran bayi perempuan tersebut menjadi simbol harapan baru bagi warga sekitar dan tim penyelamat. Bocah perempuan itu kini dijuluki sebagai bayi ajaib karena mampu bertahan hidup dalam kondisi yang sangat ekstrem.

Peristiwa ini bermula ketika dua gempa kuat melanda pesisir utara Venezuela hingga merusak ribuan bangunan. Kejadian tersebut menyebabkan banyak warga tertimbun reruntuhan bangunan, seperti dilansir dari HaiBunda.

Mengutip data Metro UK, otoritas setempat melaporkan 920 orang meninggal dunia dan 3.360 orang mengalami luka-luka. Proses pencarian masih terus berjalan karena lebih dari 50.000 orang dinyatakan hilang.

Di tengah situasi darurat tersebut, seorang perempuan hamil tiba-tiba mengalami kontraksi hebat di bawah reruntuhan. Tim penyelamat dan warga sekitar segera berupaya menjangkau titik lokasi keberadaan sang ibu.

Dr. María Fernanda Terán kemudian bertindak sebagai bidan dadakan dengan berlutut di trotoar kota pesisir La Guairá. Wilayah tersebut menjadi salah satu daerah yang mengalami kerusakan paling parah akibat guncangan gempa.

Dr. María Fernanda Terán menggendong bayi yang menangis tersebut, sementara seorang pria membantu menopang tubuh sang ibu. Warga lain yang berada di lokasi juga bergegas memberikan pakaian tambahan.

Bayi perempuan itu segera dibersihkan lalu dievakuasi ke fasilitas kesehatan terdekat. Tim penyelamat membutuhkan waktu sekitar 90 menit setelah persalinan untuk mengangkat sang ibu dari jepitan puing bangunan.

Momen evakuasi yang beredar di media sosial ini memicu keharuan luas dari warganet. Selain kisah ini, petugas juga melaporkan beberapa korban selamat yang berhasil dievakuasi setelah berhari-hari tertimbun puing.

Secara medis, proses persalinan dapat terpicu secara spontan melalui perubahan hormon ketika tubuh ibu sudah siap. Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), kontraksi tetap bisa terjadi meski ibu dalam kondisi stres berat.

Namun, melahirkan di area bencana memiliki risiko komplikasi yang sangat tinggi. Hal ini disebabkan oleh minimnya peralatan medis yang steril, keterbatasan fasilitas, serta tiadanya tenaga kesehatan yang memadai.

Ibu Hami Jadi Kelompok Rentan

World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa ibu hamil termasuk kelompok paling rentan dalam kondisi darurat kemanusiaan. Kelompok ini membutuhkan akses cepat terhadap layanan persalinan aman serta perawatan pascamelahirkan.

WHO menambahkan bahwa terhentinya layanan kesehatan saat bencana berpotensi memicu perdarahan, infeksi, kelahiran prematur, hingga kematian. Perlindungan bagi ibu hamil dan bayi baru lahir harus menjadi prioritas utama.

UNICEF turut menegaskan pentingnya memastikan kehangatan, inisiasi menyusu dini, dan pemantauan kesehatan berkala bagi bayi baru lahir. Ibu hamil di area terdampak gempa membutuhkan pertolongan medis secepat mungkin demi keselamatan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author