Kesepakatan Selat Hormuz Dorong Penguatan Saham dan Penurunan Harga Minyak
Pasar keuangan global mengalami pergerakan signifikan pada Senin, 25 Mei 2026, setelah harga minyak dunia melemah dan kontrak berjangka saham Amerika Serikat menguat menyusul meningkatnya harapan kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Aktivitas perdagangan internasional tersebut memicu penguatan mata uang sensitif risiko seperti dolar Australia dan rand Afrika Selatan terhadap dolar AS, sebagaimana dilansir dari Bloombergtechnoz.
Minyak Brent mencatat penurunan lebih dari 4 persen pada awal perdagangan, sementara futures indeks S&P 500 melonjak setelah indeks acuan ditutup mendekati rekor tertinggi pada hari Jumat sebelumnya.
Sentimen positif ini muncul setelah pejabat senior Amerika Serikat menyatakan pada hari Minggu bahwa AS dan Iran semakin dekat untuk mencapai kesepakatan pemulihan aliran minyak mentah, meskipun negosiasi poin penting masih berjalan.
Di sisi lain, kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, memberikan peringatan mengenai potensi kegagalan rancangan kesepakatan akibat hambatan dari AS terkait klausul pencairan aset Teheran.
Kondisi pasar keuangan saat ini mencerminkan optimisme pelaku pasar yang terus memantau dampak ekonomi dari konflik kedua negara setelah kesepakatan gencatan senjata pada April lalu.
Perkembangan ini terjadi di tengah penurunan sentimen konsumen AS ke rekor terendah pada Mei dan memburuknya ekspektasi inflasi jangka panjang.
Pelaku pasar kini mengantisipasi data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS dan inflasi Eropa pekan ini, bersamaan dengan ekspektasi tindakan cepat dari Kevin Warsh untuk menekan inflasi.
Penurunan harga minyak pada hari Senin juga diperkuat oleh tanda-tanda kembalinya lalu lintas kapal, termasuk sebuah supertanker pengangkut minyak mentah Irak ke China yang melintasi garis blokade AS menuju Laut Arab.
Sebanyak 33 kapal dilaporkan telah melintasi Selat Hormuz dalam waktu 24 jam setelah mendapatkan izin dari Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Analis pasar memberikan pandangan yang bervariasi mengenai keberlanjutan momentum penguatan sentimen ini di tengah dinamika negosiasi yang masih berlangsung.
"Momentum kenaikan tampaknya akan berlanjut," tulis analis IG di Sydney, Tony Sycamore, dalam catatan kepada klien.
Meskipun kesepakatan masih memiliki celah untuk gagal, Sycamore menambahkan bahwa pasar keuangan saat ini lebih memilih untuk memercayai laporan tersebut.
Sementara itu, tim strategis dari ANZ Bank menilai bahwa volatilitas harga komoditas ini masih berpotensi bertahan dalam beberapa waktu ke depan.
"Meskipun pembukaan kembali Hormuz akan positif bagi arus minyak global, sifat negosiasi yang masih dinamis dan perbedaan yang belum terselesaikan menunjukkan volatilitas harga minyak kemungkinan masih akan bertahan untuk beberapa waktu," tulis para strateg ANZ Bank termasuk David Croy dalam catatan kepada klien.
Para strateg memproyeksikan imbal hasil obligasi global akan tetap tinggi karena kekhawatiran beban utang publik dan kebutuhan pendanaan untuk investasi kecerdasan buatan (AI) yang terus meningkat.