Timnas Jerman Panen Kritik Akibat Penolakan Penalti Leon Goretzka
Kegagalan tim nasional Jerman di babak 16 besar Piala Dunia 2026 setelah kalah adu penalti melawan Paraguay di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko memicu kritik tajam terhadap gelandang veteran Leon Goretzka.
Sorotan publik tertuju pada sikap Goretzka yang terekam menolak menjadi eksekutor dalam drama adu penalti tersebut.
Mantan perenang dunia Franziska van Almsick menyampaikan kekecewaan mendalam terhadap sikap yang ditunjukkan oleh mantan pemain profesional Bayern Munchen tersebut dalam sebuah siniar.
"Menurut saya, itu penampilan yang sangat buruk dari para pemain kami. Ada seorang pemain di sana yang benar-benar membuat saya sangat kecewa secara pribadi," jelas wanita berusia 48 tahun itu dalam podcast Kerners11.
Van Almsick menambahkan bahwa seorang pemain seharusnya berani bertanggung jawab dan menerima kritik secara terbuka atas keputusan di lapangan.
"Karena jelas ada reaksi yang menunjukkan bahwa dia tidak mau mengeksekusi penalti, dan ketika seseorang secara terang-terangan menghindar dan tidak mau bertanggung jawab, hal itu sama sekali tidak saya duga."
Ketika dikonfirmasi oleh pembawa acara Johannes B. Kerner, Van Almsick menegaskan kritiknya diarahkan langsung kepada gelandang berusia 31 tahun itu.
“Bagi saya, itu adalah puncak dari semuanya. Hal itu benar-benar, benar-benar banyak mengungkapkan tentang tim ini. Menurut saya, seseorang harus bisa menerima kritik.
Itulah yang paling membuat saya kesal terhadap masyarakat kita, tetapi juga sekarang dalam Piala Dunia sepak bola kita atau pertandingan tim nasional kita. Mampu menerima kritik dan mengambil tanggung jawab.”
Lebih lanjut, Van Almsick menilai persoalan utama bukan terletak pada kesalahan teknis, melainkan keberanian untuk mengakui kesalahan setelah pertandingan.
“bahwa tidak ada yang boleh membuat kesalahan. Ini soal berani mengakui kesalahan sendiri. Setiap orang boleh membuat kesalahan.
Lalu kita bisa mengatakan, ‘Maaf, saya telah mengambil keputusan yang salah.’ (…) Tapi itu hampir seperti penolakan, atau bahkan setelah pertandingan berakhir tidak mampu mengatakan, ‘Maaf…’ Saya tidak pernah menyangka bahwa hal itu begitu sulit.”
Kejadian tersebut bermula ketika kapten Joshua Kimmich mengatur urutan penendang setelah Jerman berada dalam posisi terdesak akibat kegagalan dua penendang pertama.
Melalui rekaman kamera Spidercam, Kimmich terdengar menunjuk Nathaniel Brown sebagai penendang kedelapan sebelum akhirnya menawarkan posisi penendang selanjutnya kepada Goretzka.
"Nene nomor delapan?" tanya Kimmich kepada seluruh pemain dan menunjuk Nathaniel Brown, yang mengangguk, sebagai calon penendang kedelapan.
Namun, tawaran sang kapten justru direspons dengan gelengan kepala dan hembusan napas oleh Goretzka di lingkaran tengah lapangan.
"Atau Leon, kamu?" namun, pemain veteran berusia 31 tahun itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kesiapan pada saat itu.
Kritik senada juga dilontarkan oleh mantan bek timnas Jerman, Mats Hummels, melalui tayangan MagentaTV.
Hummels menyayangkan situasi di mana bek tengah Jonathan Tah terpaksa mengambil tendangan penalti keenam karena pemain lain enggan maju.
"Dia belum pernah mengambil tendangan penalti sepanjang kariernya. Fakta bahwa dia harus menendangnya karena semua pemain lain tidak mau lagi, sayangnya juga menunjukkan sesuatu.
Hummels kemudian membandingkan situasi tersebut dengan pengalamannya sendiri saat menghadapi Italia di perempat final Euro 2016 bawah asuhan pelatih Joachim Low.
"Saat itu, setelah sekitar satu menit, saya menghampiri pelatih (Joachim Löw, red.) dan mengatakan kepadanya bahwa saya yang akan menendang. Lalu dia berkata: 'Mats, kita sudah punya lima,'" kata pemain berusia 37 tahun itu.
Hummels menegaskan bahwa meskipun menghadapi tekanan besar dan kiper legendaris seperti Gianluigi Buffon, seorang pemain harus tetap maju dengan berani demi tim.
"Kami memiliki begitu banyak pemain yang siap maju ke titik penalti."
Di sisi lain, Hummels tetap memberikan apresiasi terhadap keberanian Jonathan Tah yang bersedia mengambil tanggung jawab tersebut meskipun akhirnya gagal berbuah gol.
"Kamu bisa terlihat seperti orang bodoh di situ. Aku berdiri di sana dan menghadapi tendangan penalti melawan Buffon, di mana aku tahu: Jika aku gagal, kita akan tersingkir. Saat itu lututku juga gemetar, tapi itu tidak boleh ditunjukkan ke luar, melainkan kita harus maju dan melakukannya tetap saja.”
Kekalahan ini menghentikan langkah Jerman di fase gugur turnamen sepak bola terbesar di dunia tersebut.
“setidaknya memiliki keberanian to maju ke sana,” kata Hummels tanpa menyalahkan bek Bayern itu sama sekali.
Hummels menutup pernyataannya dengan menyayangkan minimnya keyakinan penuh yang dimiliki oleh sejumlah pemain timnas Jerman saat momen krusial.
“Saya merasa sedikit disayangkan bahwa kami tidak berhasil membuat beberapa orang tampil dengan keyakinan penuh.”