Bappebti Ekspor Dua Kontainer Kopi ke China dan Maroko melalui Sistem Resi Gudang
Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan (Kemendag) resmi melepas pengiriman dua kontainer kopi dari Gudang Sistem Resi Gudang (SRG) KAI-ASLI Gedebage, Bandung. Pengiriman komoditas menuju China dan Maroko ini dilakukan pada Kamis (16/7/2026), seperti dilansir dari Detik Finance.
Muatan dua kontainer tersebut mencapai volume total 38,4 ton dengan nilai menembus US$ 227.443,2 atau berkisar Rp 4,08 miliar menggunakan asumsi kurs Rp 17.942. Secara rinci, satu kontainer berisi 19,2 ton kopi Robusta Grade 2 senilai US$ 71.040 atau sekitar Rp 1,27 miliar dikirim ke Maroko.
Sementara itu, satu kontainer lainnya membawa kopi Arabica Semi-Wash dengan volume 19,2 ton senilai US$ 156.403,2 atau sekitar Rp 2,80 miliar menuju China. Setelah agenda ini, Bappebti menjadwalkan pelepasan lanjutan sebanyak delapan kontainer kopi Arabica Semi Wash dari lokasi yang sama menuju China.
Ekspor susulan tersebut memiliki volume total 153,6 ton dengan nilai mencapai US$ 1.251.225,60 atau sekitar Rp 22,45 miliar. Langkah nyata ini dinilai menjadi bukti optimalisasi SRG dalam menguatkan daya saing komoditas nasional, memperluas jaringan pasar global, sekaligus memacu volume ekspor.
"Pelepasan ekspor ini membuktikan, implementasi SRG yang optimal mampu memperkuat daya saing komoditas Indonesia, meningkatkan nilai tambah produk, serta membuka akses pasar internasional yang lebih luas bagi petani dan pelaku usaha," kata Kepala Bappebti, Tirta Karma Senjaya, dalam keterangan tertulisnya, dikutip Sabtu (18/7/2026).
Tirta menjelaskan bahwa penerapan SRG ini mengintegrasikan peran banyak pihak, mulai dari jajaran pemerintah hingga para petani di bawah Koperasi Gunung Luhur Berkah. Kolaborasi ini juga melibatkan sejumlah korporasi penting.
Pihak yang terlibat meliputi PT ASLI Logistik Indonesia sebagai agregator, PT Sucofindo selaku pengelola gudang SRG, PT Kereta Api Indonesia sebagai pemilik aset gudang, serta PT Kliring Berjangka Indonesia yang bertindak sebagai pusat registrasi SRG.
"Keberhasilan implementasi SRG untuk ekspor ini merupakan hasil dari sinergi baik antara pemerintah pusat dan daerah bersama pelaku usaha. Optimalnya peran semua pihak sangat berpengaruh pada keberhasilan ini," ujar Tirta.
Pemanfaatan SRG dalam ekspor kopi memegang peran krusial karena mampu menjamin standar mutu agar tetap kompetitif di pasar internasional. Sistem ini sekaligus menjadi rantai penghubung efektif antara petani lokal dengan pasar dunia.
Perluasan jangkauan ke China dan Maroko menjadi penanda bahwa kopi produksi dalam negeri mendapat kepercayaan tinggi dari mitra global. Momentum tersebut membuka peluang besar untuk diversifikasi pasar ekspor agar tidak terus bertumpu pada negara tujuan tertentu saja.
"Ke depan, Bappebti akan terus mendorong optimalisasi pemanfaatan SRG sebagai instrumen ekosistem logistik dan pembiayaan yang kuat di hulu dan hilir sebagaimana yang diamanatkan dalam UU No. 9 Tahun 2006 jo UU No. 9 Tahun 2011. Melalui SRG, petani memiliki posisi tawar yang lebih kuat, memperoleh akses pembiayaan yang mudah, serta jaminan kualitas dan kuantitas komoditas," tutur Tirta.