Ahli Ingatkan Bahaya Ketergantungan Curhat pada Chatbot AI Bagi Remaja

Share

Ketergantungan remaja dan dewasa muda dalam memanfaatkan chatbot berbasis artificial intelligence (AI) sebagai tempat mencurahkan isi hati dikhawatirkan memicu dampak negatif bagi kesehatan mental jika dilakukan tanpa batasan, seperti dilansir dari Detik Health.

Survei Chatbots and Mental Health American Psychological Association (APA) tahun 2026 terhadap 1.200 psikolog berlisensi di Amerika Serikat menunjukkan 77 persen di antaranya pernah berdiskusi dengan pasien yang menggunakan AI untuk memperoleh dukungan emosional.

Psikiater Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM), dr Krisiana Siste menjelaskan fenomena kecenderungan generasi muda yang kerap mengandalkan kecerdasan buatan ini di Jakarta pada Rabu (26/11/2025).

"AI ini kan sering kali digunakan oleh gen Z dan gen Alpha untuk menanyakan, 'Aku kepribadiannya apa? Introvert atau ekstrovert? Aku depresi nggak sih?'" ujar dr Krisiana Siste.

Menurut dr Siste, komunikasi dalam keluarga yang minim membuat anak muda beralih ke chatbot saat kesepian, padahal teknologi ini tidak bisa menggantikan tenaga kesehatan profesional.

"AI bagus jika digunakan bersama-sama oleh keluarga. Orang tua harus mengerti dulu lalu mengajak anaknya berinteraksi bersama," tegas dr Krisiana Siste.

Sementara itu, psikolog klinis Ghina Sakinah Safari menilai penggunaan chatbot masih tergolong sehat jika hanya dipakai untuk eksplorasi awal sebelum mencari bantuan profesional atau sekadar menjadi alat bantu berpikir.

"Selain itu, juga masih sehat jika sekadar menjadi alat bantu berpikir, menulis jurnal, atau memahami emosi," kata Ghina Sakinah Safari.

Namun, Ghina mengingatkan bahwa kenyamanan berlebih pada chatbot dapat memicu isolasi emosional serta distress emosional berupa depresi dan kecemasan apabila tidak mendapatkan respons dari bot.

"Ini mulai tidak sehat juga jika seseorang mengalami distress emosional jika tidak mendapatkan respons dari bot. Selain itu, tanda lain adalah mengalami ilusi relasi, seperti merasa bot adalah teman sejati dan satu-satunya yang memahami," ujar Ghina Sakinah Safari.

Kondisi mental pengguna juga terancam memburuk jika hasil diagnosis mandiri dari AI yang kerap keliru dijadikan dasar pengobatan tanpa konsultasi medis.

"ChatGPT sendiri tidak menyimpan informasi pengguna secara personal, tapi tetap penting untuk tidak membagikan data pribadi sensitif," kata Ghina Sakinah Safari.

Bahaya nyata sistem keamanan chatbot yang tidak memadai juga disorot oleh APA, salah satunya memicu kasus bunuh diri seorang remaja 14 tahun di Florida pada Februari 2024 akibat dukungan dari chatbot.

Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Ridi Ferdiana turut menegaskan bahwa respons AI sepenuhnya bergantung pada perintah pengguna karena beroperasi dengan prinsip masukan buruk menghasilkan keluaran buruk.

"Pada dasarnya, apa pun yang Anda perintahkan untuk diucapkan akan menghasilkan kata-kata yang diinginkan. AI beroperasi berdasarkan prinsip 'masukan buruk menghasilkan keluaran buruk'. Masukan yang buruk menghasilkan keluaran yang buruk," kata Prof Ridi Ferdiana.

Ia mengimbau masyarakat untuk membatasi ruang ekspresi emosi pada AI agar tidak kehilangan kendali atas diri sendiri.

"Gunakan AI secukupnya. Sama seperti waktu penggunaan layar pada ponsel pintar, kita perlu menetapkan batasan saat menggunakan AI sebagai ruang untuk ekspresi emosi. Jangan terlalu bergantung dan kehilangan kendali atas diri kita sendiri," saran Prof Ridi Ferdiana.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author