Polres Metro Depok Usut Kasus Teror Pagar Rumah Warga Pancoran Mas
Polres Metro Depok menyelidiki dugaan kasus teror dan perusakan pagar rumah keluarga Azis Suraji oleh tetangganya di Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat. Penyelidikan ini dilakukan setelah korban resmi membuat laporan polisi usai aksi pelaku viral di media sosial.
Aksi teror tersebut terekam kamera CCTV yang memperlihatkan seorang pria melemparkan helm dengan kencang ke rumah korban pada Kamis (16/7/2026). Pada hari berbeda, pelaku juga terlihat membuang sampah ke area rumah korban hingga memicu keributan warga, sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Kasat Reskrim Polres Metro Depok AKBP Made Gede Oka mengonfirmasi bahwa pihak korban telah resmi melaporkan kejadian tersebut. Laporan tersebut terdaftar dengan nomor LP/B/1531/VII/2026/SPKT/POLRES METRO DEPOK.
"Iya baru buat LP semalam," ujar Kasat Reskrim Polres Metro Depok AKBP Made Gede Oka.
Saat ini penyidik kepolisian masih mengumpulkan keterangan dan memeriksa sejumlah saksi untuk mengusut tuntas peristiwa penyerangan tersebut.
Anak dari Azis Suraji, Novita (29), mengungkapkan bahwa tetangganya kerap melakukan tindakan teror di depan rumahnya, termasuk merusak pagar pada Rabu (15/7/2026).
"Itu (perusakan pagar) barusan yang tanggal 15 yang kemarin. Itu baru. (Pakai) Kaki, ditendang," kata Novita.
Selain perusakan fisik, Novita menyebut tetangganya sempat mengganggu kegiatan keagamaan keluarganya pada tahun 2025 dengan memutar musik bersuara keras.
"2025, itu ketika, kenapa saya bilang nyetel musik itu benar adanya? Karena mama lagi pengajian ratiban malam Jumat. Wajar nggak tuh?" kata Novita.
Ancam fisik berupa senjata tajam juga pernah dialami keluarga korban saat momen perayaan hari raya.
"Sampai pas lebaran aja pernah kita dibawain golok. Keluarga lagi pada kumpul di rumah, dibawain golok. Banyak saksi hidup, keluarga saya masih pada hidup. Sayangnya belum ada CCTV," kata Novita.
Tekanan dari tetangga tersebut diakui Novita terjadi secara rutin dalam kehidupan sehari-hari.
"Kalau untuk verbal itu hampir setiap hari kalau verbal ya," kata Novita.
Menurut Novita, perselisihan tersebut bermula dari kesalahpahaman saat ibunya bercanda dengan suaminya yang merupakan warga negara asing (WNA).
"Awal mulanya dulu kan suami saya WNA. Nggak mengerti bahasa Indonesia. Dia hanya paham kata-kata yang sarkas gitu, kayak intinyalah.
Nah dia bercanda sama anaknya sampai nangis-nangis gitu. Terus Mama bilang 'orang gila', biar anaknya ketawa segala macam, biar nggak nangis lagi," kata Novita.
Ibunya menggunakan istilah tersebut untuk menghibur anak, namun ditanggapi berbeda oleh tetangganya.
"Nah, katanya sakit hati sama perkataan mama saya 'orang gila', padahal nggak pernah ada sedikit pun keluarga saya yang ngatain dia pas kejadian," kata Novita.