Inggris Desak FIFA Selidiki Spanduk Malvinas Pemain Argentina
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mendesak FIFA untuk menyelidiki aksi skuad tim nasional Argentina yang membentangkan spanduk politis mengenai Kepulauan Malvinas setelah laga semifinal Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat pada Juli 2026.
Sikap resmi tersebut diambil menyusul tindakan para pemain Argentina yang memamerkan tulisan kontroversial setelah menyingkirkan timnas Inggris di babak semifinal. Langkah penyelidikan ini awalnya diusulkan oleh Menteri Perdagangan Inggris Peter Kyle demi menegakkan aturan disiplin sepak bola internasional.
Aksi pembentangan spanduk bertuliskan "Las Malvinas son Argentinas" atau "Kepulauan Malvinas adalah milik Argentina" tersebut memicu ketegangan diplomatik baru karena wilayah seberang laut itu masih menjadi sengketa historis sejak perang tahun 1982.
Sejumlah pemain yang merumput di Liga Inggris, seperti Lisandro Martinez dari Manchester United dan Cristian Romero dari Tottenham Hotspur, terlihat membentangkan spanduk itu bersama Giovani Lo Celso dan Leandro Paredes, sementara kapten tim Lionel Messi tampak merayakannya di belakang mereka.
Pemerintah Inggris melalui kantor perdana menteri di Downing Street langsung memberikan respons keras mengenai status kedaulatan wilayah tersebut.
"Piala Dunia mungkin bukan milik kami, tetapi Kepulauan Falkland jelas milik kami. Posisi kami tidak berubah. Penentuan nasib sendiri ada di tangan penduduk pulau dan komitmen kami terhadap Falkland tidak akan pernah goyah," tulis pernyataan resmi Pemerintah Inggris sebagaimana dikutip dari The Guardian.
Pihak Downing Street juga menekankan bahwa urusan penindakan diserahkan sepenuhnya kepada otoritas tertinggi sepak bola dunia dengan batasan yang jelas agar netralitas olahraga tetap terjaga dari isu luar.
"Secara lebih luas, tindakan potensial adalah urusan FIFA. Tetapi ini adalah Piala Dunia yang fantastis, dan kami telah menegaskan selama ini bahwa politik harus dijauhkan dari sepak bola," lanjut pernyataan tersebut.
Menteri Perdagangan Inggris Peter Kyle sebelumnya menyatakan tindakan para pemain Argentina tersebut sebagai bentuk pelanggaran nyata terhadap regulasi FIFA yang melarang keras pesan politik dalam pertandingan resmi.
"Piala Dunia memiliki salah satu prinsip utamanya bahwa politik terpisah dari sepak bola. Itu sekarang menjadi urusan FIFA. Saya berharap FIFA akan melakukan penyelidikan secara menyeluruh," kata Peter Kyle dilansir dari BBC.
Komite disiplin FIFA dilaporkan tengah mengumpulkan informasi dan meninjau laporan pertandingan sebelum memutuskan sanksi formal terhadap asosiasi sepak bola Argentina.
Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) sendiri memiliki rekam jejak pelanggaran serupa dan pernah dijatuhi denda sebesar 20.000 pound sterling oleh FIFA pada tahun 2014 karena membentangkan spanduk yang sama sebelum laga persahabatan melawan Slovenia.