FIFA Bela Ivan Barton Usai Dikritik Didier Deschamps

Share

Ketua Komite Wasit FIFA Pierluigi Collina membela kinerja wasit Ivan Barton setelah manajer tim nasional Prancis Didier Deschamps mempertanyakan kepemimpinannya dalam laga semifinal Piala Dunia 2026 di Texas pada Selasa lalu.

Prancis tersingkir dari turnamen setelah menelan kekalahan 0-2 dari Spanyol melalui penalti Mikel Oyarzabal dan gol tambahan yang memicu protes keras dari kubu Les Bleus terkait keabsahan keputusan di lapangan.

Deschamps meluapkan rasa kecewanya terhadap wasit asal El Salvador tersebut karena menilai ada keputusan keliru yang mengubah jalannya pertandingan, termasuk dugaan handball Lamine Yamal sebelum terjadinya penalti.

"Si jika saya mengatakan sesuatu, saya akan dianggap sebagai pecundang yang buruk, karena kami kalah," kata Didier Deschamps, Seleksioner Prancis.

"Tapi saya bertanya kepada Anda: apakah wasit berada di level yang tepat untuk memimpin semifinal? Ada penalti, tentu saja, tapi itu belum semuanya; itu menambah semua hal lainnya. Saya tidak menentang wasit malam ini, tapi ajukan pertanyaan itu pada diri Anda sendiri."

Kritik tersebut langsung direspons oleh FIFA melalui Collina yang menegaskan bahwa seluruh korps wasit yang bertugas di fase krusial ini telah melalui proses seleksi yang sangat ketat.

"Dalam menanggapi perkataan Didier Deschamps yang mempertanyakan level wasit untuk memimpin semifinal, FIFA jelas: 'Ya, tentu saja'," kata Pierluigi Collina, Kepala Departemen Perwasitan FIFA.

"Wasit kami adalah kelas dunia."

Di sisi lain, kekalahan ini juga memicu gelombang protes dari para pendukung Prancis yang membuat petisi daring untuk mengulang pertandingan karena ketidakpuasan terhadap kepemimpinan Barton.

Hingga Kamis pukul 15.00 waktu setempat, petisi tersebut telah ditandatangani oleh lebih dari 45.480 orang meskipun peluang untuk dikabulkan hampir tidak ada.

Mantan pemain timnas Prancis Jérôme Rothen turut menyampaikan kritik tajam terhadap taktik Deschamps dan performa buruk para pemain yang dinilainya melakukan terlalu banyak kesalahan teknis di lapangan.

"Ils ont échoué sur leur objectif, et en plus, ils ont échoué parce qu’ils ont pris une leçon. On avait des interrogations avant le match, et malheureusement – parce que je ne suis pas content de ce qui s’est passé, et je suis triste – parce que je pense qu’on aurait pu éviter certaines choses. Je ne dis pas qu’on aurait pu éviter la défaite, parce que ce n’est pas juste un changement de système qu’on allait bousculer les espagnols.

Autant ça s’est joué certainement tactiquement, et après il y a les performances des joueurs. Tu ne peux pas gagner un match avec autant d’erreurs techniques, et qu’en face…" kata Jérôme Rothen, Pengamat Sepak Bola.

"Certains ont été un cran, voire deux crans en dessous. Individuellement, même physiquement… Des mauvais matches on en a fait… La Coupe du Monde est ratée pour l’Equipe de France, et on a pris une vraie leçon de football… Ce n’est pas pour parler de moi, ou de Johan Micoud, car dans les médias on était deux à tenir ce discours-là, sur notre quatuor offensif […] On a joué à trois derrière avec Aurélien Tchouaméni. En fin de première mi-temps, on avait l’impression qu’il allait se retrouver derrière Maignan si ça continuait… Après, si on ne s’en prend pas à Olise sur ce match aussi… On ne va pas s’en prendre à Koundé et Tchouaméni, vous savez ce que je pense d’eux" ujar Jérôme Rothen, Pengamat Sepak Bola.

Prancis kini dijadwalkan menghadapi Inggris dalam pertandingan perebutan tempat ketiga pada Sabtu mendatang, sementara Spanyol akan bertemu Argentina di partai final pada hari Minggu.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author