Prancis Bersiap Hadapi Inggris Setelah Tersingkir dari Piala Dunia 2026
Tim nasional Prancis kini bersiap menghadapi Inggris dalam laga perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2026 pada Sabtu mendatang setelah dipastikan tersingkir di babak semifinal oleh Spanyol.
Kekalahan 0-2 dari Spanyol di semifinal tidak hanya menutup peluang Prancis meraih trofi, tetapi juga menandai akhir masa jabatan Didier Deschamps yang telah melatih tim selama 14 tahun.
Kendati demikian, Deschamps menegaskan kepada skuadnya untuk tetap fokus dan memberikan performa maksimal pada pertandingan perebutan tempat ketiga yang akan digelar di Hard Rock Stadium, Miami.
"On va tout faire pour aller la chercher. On a ce devoir par rapport à nous-mêmes, par rapport à ce que représente ce maillot, par rapport à tous les gens qui sont derrière nous et qui ont vibré. Il y a beaucoup de déçus forcément, mais il y a un match.
Ce n'est pas un match amical. OK, ça ne va pas changer leur vie, mais tous les joueurs doivent avoir ce devoir-là" ujar Didier Deschamps, Pelatih Timnas Prancis.
Keputusan Deschamps untuk bertahan hingga turnamen ini mendapat kritik tajam dari mantan pemain Paris Saint-Germain, Jérôme Rothen, yang menilai sang pelatih bertahan terlalu lama di posisinya.
"Pour moi, il est resté trop longtemps pour que le bilan soit exceptionnel. Dix ans c’est long déjà. Sur ses six premières années, son travail a été monstrueux.
S’il s’était arrêté en 2018 ou en 2021, le bilan aurait été exceptionnel. Sur ses huit premières années, il n’y a rien à dire. Pour moi, 2024 et 2026 sont les années de trop.
Il a perdu le 'mojo’ de son état d’esprit de compétiteur hors-pair" kata Jérôme Rothen, Mantan Pemain PSG.
Di sisi lain, mantan pemain profesional Prancis Jean-Michel Larqué memberikan pandangan yang bertolak belakang mengenai akhir masa bakti Deschamps di tim nasional.
"Malgré la fin, le bilan de Deschamps est exceptionnel !" ujar Jean-Michel Larqué, Pengamat Sepak Bola.
Sementara itu, gelandang tim nasional Republik Demokratik Kongo mengekspresikan rasa syukurnya dapat berpartisipasi dalam turnamen akbar ini.
"C'était une consécration de disputer cette Coupe du monde !" kata Samuel Moutoussamy, Pemain Internasional Kongo.
Mantan pemain Prancis yang pernah tampil dalam laga perebutan tempat ketiga pada edisi 1982 dan 1986 juga menyoroti pentingnya pertandingan tersebut bagi para pemain pelapis.
"Ce type de match permet aux remplaçants de jouer, c'est une vraie motivation !" ujar Bruno Bellone, Mantan Pemain Timnas Prancis.
Laga perebutan tempat ketiga antara Prancis dan Inggris dijadwalkan berlangsung pada hari Sabtu di Hard Rock Stadium, Miami.