Siswa MAN 3 Padang Ledakkan Bom Rakitan Akibat Perundungan
Seorang siswa kelas III berinisial R (17) nekat meledakkan bom rakitan di sekolahnya, Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Padang, Sumatera Barat, pada Selasa (14/7/2026) demi membalas aksi perundungan yang kerap dialaminya sejak kelas II.
Insiden ledakan tersebut dikonfirmasi tidak menimbulkan korban jiwa, sebagaimana dilansir dari Detikcom. Berdasarkan hasil penyelidikan kepolisian, pelaku merakit bom tersebut secara autodidak dari internet tanpa keterlibatan jaringan terorisme.
Kabid Humas Polda Sumbar, Kombes Susmelawati Rosya, menjelaskan bahwa pelaku memperoleh keahlian merakit bom melalui sejumlah platform media sosial secara mandiri.
"Berdasarkan pengakuan dari yang bersangkutan, dia belajar secara mandiri atau autodidak dari YouTube, Instagram, dan internet. Dia belajar mandiri secara autodidak dan itu sudah disampaikannya," ujar Kombes Susmelawati Rosya, Kabid Humas Polda Sumbar.
Pihak berwenang sejauh ini belum menemukan adanya keterlibatan pihak luar yang menuntun pelaku dalam merangkai bahan peledak itu.
"Sampai saat ini, belum ada informasi terkait adanya pihak atau orang lain yang membimbingnya. Dari hasil pemeriksaan terhadap pelaku, memang dia itu mengaku belajar autodidak secara mandiri sendiri," ungkap Kombes Susmelawati Rosya, Kabid Humas Polda Sumbar.
Berdasarkan keterangan tambahan, aksi belajar merakit bom ini sudah dipersiapkan pelaku sejak beberapa bulan lalu demi meluapkan tekanan psikologis akibat dirundung oleh teman sekelasnya.
"(Belajar merakit) dari bulan Ramadan kemarin, berarti dari April, sampai sekarang. Karena si anak dari duduk kelas II dia sudah di-bully. Sekarang dia sudah kelas III. Sejak pertama duduk di kelas II, dia sudah di-bully sama teman-teman kelasnya," tutur Kombes Susmelawati Rosya, Kabid Humas Polda Sumbar.
Tekanan mental yang terakumulasi sejak lama memicu pelaku nekat merakit bom setelah mempelajari panduannya di internet.
"Jadi, tindakan ini kemungkinan merupakan akumulasi dari beban tekanan psikologis yang mendalam sehingga dia dari bulan Ramadan sudah belajar secara autodidak, kemudian melihat internet, melihat instagram itu ia lakukan, itu ia akui sendiri," tambah Kombes Susmelawati Rosya, Kabid Humas Polda Sumbar.
Pihak kepolisian juga menegaskan bahwa tindakan nekat pelajar tersebut murni karena masalah pribadi dan tidak berkaitan dengan kelompok radikal mana pun.
"Update dari informasi menunjukkan bahwa kejadian ini tidak ada hubungannya dengan jaringan-jaringan terorisme seperti yang kita bayangkan," ucap Kombes Susmelawati Rosya, Kabid Humas Polda Sumbar.
Guna menangani dampak psikologis pelaku yang masih di bawah umur, Polres setempat kini memprioritaskan langkah pemulihan bersama instansi terkait.
"Jadi, kita juga butuh merehab (pemulihan) supaya merehabilitasi psikologis si anak ini agar tidak terpapar lebih jauh. Saat ini, Kapolres sudah berkoordinasi dan berkolaborasi dengan OPD setempat untuk pemulihan dan rehabilitasi korban. Ini yang sedang menjadi prioritas utama," tutur Kombes Susmelawati Rosya, Kabid Humas Polda Sumbar.
Meskipun proses hukum tetap bergulir, polisi saat ini lebih menitikberatkan perhatian pada aspek pendampingan kejiwaan pelaku serta pemulihan trauma bagi siswa lain di sekolah tersebut.
"Saat ini masalah pemeriksaan sedang berjalan. Masalah penetapan (status) atau apa itu belum ada, karena fokus saat ini adalah pemulihan bagi korban. Pemulihan atau pendampingan psikologis bagi korban menjadi hal yang paling utama," tutur Kombes Susmelawati Rosya, Kabid Humas Polda Sumbar.
Upaya pemulihan psikologis berupa trauma healing juga langsung diberikan kepada siswa-siswi MAN 3 Padang oleh Polsek setempat pascakejadian.
"Yang kedua juga ada pemulihan untuk anak-anak sekolah. Jadi dari Polsek kemarin sudah dilakukan trauma healing oleh Kapolseknya ke sekolah. Seperti yang disampaikan kemarin oleh pimpinan, anak ini kan masih muda, usianya 17 tahun, dan dia ini terpapar," tambah Kombes Susmelawati Rosya, Kabid Humas Polda Sumbar.
Di sisi lain, juru bicara Densus 88 Antiteror Polri, Kombes Mayndra Eka, mengonfirmasi bahwa penemuan awal benda diduga bom rakitan di wilayah Kecamatan Koto Tengah tersebut pertama kali dilaporkan oleh petugas keamanan sekolah.
Pihak kepolisian kembali menegaskan bahwa tindakan nekat siswa berusia 17 tahun ini dipicu oleh rasa sakit hati akibat terus-menerus dijadikan bahan olok-olokan di lingkungan sekolahnya.
"Iya betul korban bullying, karena tekanan psikologis sering jadi objek ejekan teman-temannya ya, dia berbuat seperti itu," ujar Kombes Susmelawati Rosya, Kabid Humas Polda Sumbar.