FBI Tangkap Puluhan Anggota Jaringan Kriminal Internasional Asal India

Share

Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) menggelar operasi penindakan internasional terbesar bernama "Operation Hard Ball" terhadap kelompok kejahatan terorganisir asal India, dilansir dari Detikcom. Operasi pada pekan lalu tersebut berujung pada penangkapan 24 tersangka di Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Spanyol, serta dakwaan terhadap 37 terdakwa.

Pusat kasus ini melibatkan Lawrence Bishnoi, gangster asal India yang mendekam di penjara negara bagian Gujarat. Jaksa AS menuduh Bishnoi memerintahkan pembunuhan, pemerasan, dan perdagangan narkoba internasional dari dalam sel menggunakan ponsel selundupan. Sementara itu, tangan kanannya yang bernama Goldy Brar atau Satinderjeet Singh Brar masih buron dengan imbalan penangkapan dari FBI sebesar 50.000 dolar AS.

Organisasi Bishnoi dituduh memeras jutaan dolar dari pemilik bisnis di Amerika Utara dan memerintahkan kekerasan bagi yang menolak membayar. Dakwaan tersebut juga menyatakan Bishnoi dan Brar memerintahkan pembunuhan pemimpin separatis Sikh, Hardeep Singh Nijjar, pada 2023 di luar gurdwara di Surrey, British Columbia, Kanada. Dokumen dakwaan tidak menyebutkan adanya keterlibatan pemerintah India dalam pembunuhan yang sempat memicu krisis diplomatik tersebut.

Pihak India menyambut baik dakwaan AS terhadap Bishnoi dan rekannya atas pembunuhan Nijjar pada Selasa (14/07). Juru bicara Kementerian Luar Negeri India, Randhir Jaiswal, menyatakan bahwa kasus ini menegaskan ancaman kejahatan terorganisir lintas negara yang terus tumbuh.

Para pakar menilai kelompok Bishnoi merupakan generasi baru kejahatan terorganisir India yang canggih secara teknologi dan memanfaatkan jaringan diaspora. Berbeda dengan sindikat D-Company milik Dawood Ibrahim atau kelompok Chhota Rajan pada era 1980-an dan 1990-an yang berpusat pada poros Dubai-Mumbai, jaringan Bishnoi beroperasi tanpa perlindungan pemerintah negara mana pun.

"Berbeda dari D-Company milik Dawood Ibrahim atau sindikat Chhota Rajan, yang sebagian besar beroperasi lewat poros Dubai-Mumbai memakai jaringan penyelundupan yang berpusat pada emas dan perak, kelompok Bishnoi mewakili generasi baru kejahatan terorganisir India," kata Shreekumar Menon, spesialis pemberantasan narkoba ternama.

Penyidik memaparkan bahwa gerombolan ini memadukan jaringan kriminal lokal di India dengan rekanan di luar negeri untuk mengidentifikasi target menggunakan aplikasi pesan terenkripsi dan media sosial.

"Meski belum bisa disandingkan dengan skala kartel Kolombia, kemunculannya di lanskap narkoba dan pemerasan Amerika Utara menandai perubahan yang signifikan. Kelompok-kelompok India selama ini dipandang sebagai pemain regional, tapi kasus Bishnoi menunjukkan mereka kini mulai jadi pemain dalam kejahatan terorganisir lintas negara," kata Menon.

Aparat penegak hukum kini memerlukan pertukaran intelijen dan penelusuran aliran dana lintas negara untuk menghadapi struktur yang lebih terdesentralisasi ini.

"Kasus Bishnoi bukan menandai awal dari internasionalisasi kejahatan terorganisir India," kata Ajay Sahni, Direktur Eksekutif dari Institute for Conflict Management.

Sahni menambahkan bahwa komunikasi terenkripsi, mata uang kripto, dan biaya perjalanan yang murah mempermudah kolaborasi sel-sel kriminal tanpa hierarki kaku.

"Komunikasi terenkripsi, mata uang kripto, dan biaya perjalanan internasional yang murah memungkinkan sel-sel yang terhubung secara longgar untuk berkolaborasi lintas benua, tanpa hierarki kaku yang diandalkan sindikat-sindikat lama," katanya.

Sahni juga menilai evolusi teknologi ini telah melampaui kemampuan penegakan hukum yang cenderung masih bersifat nasional karena adanya hambatan yurisdiksi dan diplomatik.

"Model bisnisnya tidak berubah, pemerasan, narkotika, pembunuhan bayaran, dan kejahatan finansial tetap jadi sumber pendapatan utama. Yang berubah adalah kecepatan, jangkauan, dan daya tahan jaringan-jaringan ini," katanya.

Hambatan prosedural antarnegara menjadi celah yang dimanfaatkan oleh jaringan kriminal internasional ini.

"Kejahatan terorganisir semakin bersifat lintas negara, tapi penegakan hukum cenderung masih bersifat nasional," katanya.

Mantan pejabat senior intelijen India, Avinash Mohananey, menilai penindakan global ini berpotensi memberikan dampak besar untuk menghentikan sindikat Bishnoi.

"Jaringan Bishnoi bukan sindikat kejahatan India pertama yang mendunia. Seperti D-Company dan sindikat Chhota Rajan sebelumnya, jaringan ini membangun operasi lintas negara untuk pemerasan, pembunuhan bayaran, perdagangan narkoba, dan mencari tempat perlindungan. Yang pada akhirnya melemahkan sindikat-sindikat itu adalah kerja sama internasional yang konsisten," kata Avinash Mohananey, pakar kejahatan terorganisir.

Kolaborasi penegak hukum lintas negara menjadi kunci utama dalam melumpuhkan kelompok kejahatan seperti ini.

"Tindakan otoritas AS, yang bekerja sama dengan mitra internasional, berpotensi memberi pukulan telak bagi jaringan Bishnoi. Sindikat kejahatan India sebelumnya baru berhasil dilumpuhkan ketika pertukaran intelijen dan kerja sama penegakan hukum melintasi batas negara," pungkasnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author