Slogan Footballs Coming Home Bergema Jelang Semifinal Piala Dunia 2026
Slogan legendaris "It's coming home" kembali membahana di berbagai stadion dan media sosial seiring keberhasilan tim nasional pria Inggris menembus babak semifinal Piala Dunia 2026 setelah menumbangkan Norwegia dengan skor 2-1 pada Sabtu lalu. Yel-yel yang diambil dari lagu "Three Lions" rilisan tahun 1996 karya band indie The Lightning Seeds bersama komedian David Baddiel dan Frank Skinner ini menjadi simbol harapan sekaligus target olok-olok suporter lawan sepanjang turnamen. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer turut meramaikan atmosfer tersebut melalui media sosial X dengan menuliskan dukungannya bagi tim nasional.
"It might actually be coming home." tulis Starmer.
Kalimat ikonik tersebut kerap disalahartikan oleh publik luar Inggris sebagai bentuk kesombongan atau klaim sepihak atas trofi juara, seperti yang pernah dilontarkan oleh kapten Kroasia Luka Modrić pada Piala Dunia 2018 dan kiper Denmark Kasper Schmeichel saat Euro 2020. Namun, pencipta lagu dan pihak internal timnas Inggris menegaskan bahwa lagu ini sebenarnya merefleksikan selera humor khas Inggris yang menertawakan kegagalan masa lalu sembari tetap memelihara optimisme.
"really about magical thinking. About assuming we are going to lose, reasonably, based on experience, but hoping that somehow we won't." ujar Baddiel kepada Guardian pada tahun 2021. Sentimen senada juga diungkapkan oleh mantan manajer timnas Inggris yang menjelaskan karakteristik di balik lirik anthem sepak bola yang sarat akan kritik mandiri tersebut.
"You have to know the English to understand our humor, and our humor is probably quite unique, but it's certainly not arrogant. The lyrics are making fun of ourselves, really, and the things that have gone wrong." kata Gareth Southgate pada tahun yang sama. Psikolog olahraga dari University of Wolverhampton Inggris Andy Lane turut memaparkan fenomena sosial ini dari sudut pandang ilmiah, di mana nyanyian massal mampu menyatukan individu menjadi kelompok sosial temporer yang kuat. "music can turn a collection of individuals into a temporary social group," kata Lane dilansir dari Time.
Fenomena ini terus berlanjut di ruang publik di mana emosi suporter tetap terjaga pascapertandingan.
"After an important win, the emotional intensity remains high, and singing allows supporters to express joy, affiliation, and shared meaning in public," ucap Lane. Tradisi menyanyikan lagu-lagu populer ini bahkan mampu mengaburkan batasan antara pendukung fanatik dan masyarakat biasa yang berada di sekitar lokasi perayaan. "Familiar songs such as ‘Three Lions,’ ‘Wonderwall,’ and ‘Sweet Caroline’ are culturally shared, so they can temporarily reduce the boundary between supporters and bystanders," tambah Lane.
Di sisi lain, antusiasme Piala Dunia 2026 yang kini diikuti oleh 58 tim juga memicu kritik dari sebagian warga terkait dominasi tayangan olahraga di televisi publik, seperti diungkapkan John Howells melalui Tavistock Today yang mengeluhkan tergesernya jadwal program reguler.
Inggris dijadwalkan menghadapi Argentina pada laga semifinal Piala Dunia 2026 yang berlangsung tanggal 15 Juli, sementara babak final turnamen akbar ini akan digelar pada 19 Juli 2026.