Argentina Hadapi Inggris di Semifinal Piala Dunia 2026
Tim nasional Argentina dijadwalkan bertanding melawan Inggris dalam laga semifinal Piala Dunia 2026 di Atlanta pada Rabu, 15 Juli 2026, waktu setempat. Pertemuan kedua tim ini memicu kembali ketegangan politik dan sejarah terkait sengketa kedaulatan Kepulauan Falkland atau Malvinas.
Ketegangan menjelang pertandingan meninggi setelah Wakil Presiden Argentina Victoria Villarruel memberikan komentar pedas di media sosial X. Latar belakang keluarga Villarruel yang merupakan anak dari veteran Perang Malvinas tahun 1982 turut mewarnai pernyataan tersebut.
"We play against the usurping pirates. It’s not just another match," ujar Victoria Villarruel, Wakil Presiden Argentina.
Pernyataan ini menegaskan bahwa laga tersebut bukan sekadar pertandingan sepak bola biasa bagi publik Argentina.
"I’m not going to be politically correct or keep a cool head – it’s always something more against the English," kata Victoria Villarruel, Wakil Presiden Argentina.
Villarruel menambahkan bahwa laga ini membawa beban emosional dari sejarah masa lalu serta ambisi generasi saat ini.
"It’s the Malvinas, it’s Diego, it’s Leo’s last run, and it’s about stopping the invaders in their tracks," ucap Victoria Villarruel, Wakil Presiden Argentina.
Ia menutup seruannya dengan mengajak seluruh rakyat Argentina untuk terus mendukung tim nasional mereka.
"Go Argentina! Because until our very last breath, we will keep claiming what is ours!" seru Victoria Villarruel, Wakil Presiden Argentina.
Di sisi lain, jajaran kepelatihan Argentina justru berusaha meredam aspek politis dari pertandingan ini agar para pemain tetap fokus.
"It’s a football match, plain and simple. So, mixing the two would be madness," tutur Lionel Scaloni, Pelatih Argentina.
Upaya memisahkan politik dari olahraga juga disuarakan oleh menteri keamanan yang melarang atribut bermuatan politis masuk ke stadion.
"It is a football game and that is all," tegas Lionel Scaloni, Pelatih Argentina.
Sebelumnya, Scaloni sempat memotong pertanyaan wartawan yang mencoba mengaitkan laga ini dengan emosi sejarah masa lalu.
"This is a football match, OK?" potong Lionel Scaloni, Pelatih Argentina.
Ia meminta agar semua pihak tidak mencari-cari narasi lain di luar konteks olahraga.
"The message is that this is a football match. Let’s not look for anything else. This is a football match." tambah Lionel Scaloni, Pelatih Argentina.
Sikap Scaloni ini mengingatkan publik pada sikap mendiang legenda sepak bola yang juga sempat meredam tensi sebelum laga legendaris tahun 1986.
"This is just a match, OK?" kata Diego Maradona, Legenda Argentina.
Namun, suasana di ruang ganti pemain menjelang pertandingan tahun 1986 tersebut ternyata sangat kontras dengan pernyataan di depan pers.
"Diego was walking in line with us," ungkap José Luis Brown, Mantan Bek Argentina.
Brown menceritakan bagaimana sang kapten membakar semangat tim sesaat sebelum memasuki lapangan pertandingan.
"and he started raving. He says: ‘Let’s go, yeah? These motherfuckers killed our neighbours, they killed our relatives.’
I understood, obviously … After the anthems, nobody said anything. We hadn’t said anything about that before the game but we’d all been thinking about it. We just went out there and ran." kenang José Luis Brown, Mantan Bek Argentina.
Kisah masa lalu dan bayang-bayang Maradona terus hidup dalam ingatan fans serta yel-yel yang dinyanyikan para pemain di ruang ganti saat ini.
"Por las Malvinas, y por el Diego," lantang Para Pemain Argentina.
Nyanyian tersebut menjadi lagu utama yang terus berkumandang sepanjang kampanye Piala Dunia mereka.
"For the Malvinas, and for Diego," arti Nyanyian Argentina.
Lagu alternatif bertajuk La Cuarta Estrella juga kerap dinyanyikan oleh para pemain saat merayakan kemenangan di babak sebelumnya.
"For the Malvinas, for Diego, for Leo's last one," bunyi Lirik Lagu Argentina.
Kapten tim saat ini, Lionel Messi, akan menghadapi Inggris untuk pertama kalinya sepanjang karier profesionalnya di level internasional.
"It’s a special match because it’ll be my first time facing England," kata Lionel Messi, Penyerang Argentina.
Messi mengakui antusiasmenya menghadapi salah satu kekuatan besar sepak bola dunia di fase krusial ini.
"I’ve played against almost every major national team, but never them. England are one of football’s great powerhouses, so it’s always exciting to take on a team of that caliber, especially in a World Cup semi-final." tambah Lionel Messi, Penyerang Argentina.
Sementara itu, para pemain muda Argentina berjanji akan memberikan performa maksimal demi kehormatan negara mereka.
"leave our lives on the field." janji Jose Lopez, Penyerang Argentina.
Lopez menyadari sepenuhnya bahwa pertandingan ini memikul sejarah panjang yang penuh dengan rasa sakit.
"Obviously, inside and outside the four lines of the pitch it’s a match that has a lot of history there, a lot of pain and a lot of things behind it," jelas Jose Lopez, Penyerang Argentina.
Gelandang tim nasional Argentina juga menegaskan bahwa nyanyian yang mereka bawakan adalah bentuk penghormatan kepada pahlawan.
"very much about our heroes" kata Rodrigo de Paul, Gelandang Argentina.
Ia setuju bahwa isu politik terkait kedaulatan wilayah sebaiknya dibahas di forum yang tepat, bukan di atas lapangan hijau.
"We have to understand that this is a football match and that the Malvinas issue needs to be discussed elsewhere," imbau Rodrigo de Paul, Gelandang Argentina.
De Paul juga mengingat kembali besarnya pengaruh gol kontroversial dan gol indah masa lalu dalam rivalitas kedua negara.
"hugely significant and brings back a lot of memories because of what Diego did," sebut Rodrigo de Paul, Gelandang Argentina.
Di kubu lawan, manajer Inggris menyatakan kesiapan skuadnya menghadapi determinasi tinggi yang dimiliki oleh para pemain Argentina.
"are fueled by history, it means a lot to them. … But we are also emotional. We have the grit. We have the mentality that it takes to go up against it, and we are ready for it." ujar Thomas Tuchel, Pelatih Inggris.
Kiper utama tim nasional Inggris juga memilih fokus pada aspek olahraga dan performa di atas lapangan saja.
"just a game of football" kata Jordan Pickford, Kiper Inggris.
Ia meyakini bahwa hasil akhir pertandingan nanti yang akan berbicara dengan sendirinya.
"football will do its talking" prediksi Jordan Pickford, Kiper Inggris.
Mantan penyerang Inggris yang ikut bertanding pada laga tahun 1986 juga menyuarakan harapannya agar tim saat ini bisa membalas kekalahan masa lalu.
"revenge this time round" harap Gary Lineker, Komentator Sepak Bola.
Lineker merujuk pada kekalahan menyakitkan akibat gol tangan yang terjadi empat puluh tahun silam.
"A few minutes later, Maradona then scored possibly the greatest goal in the history of the World Cup," kenang Joey D'urso, Jurnalis Sepak Bola.
Kala itu, gol pertama dicetak menggunakan tangan yang kemudian melahirkan istilah religius yang sangat terkenal.
"a little with the head of Maradona, and a little with the hand of God." aku Diego Maradona, Legenda Argentina.
Dalam sebuah dokumentasi, sang legenda mengakui ada kepuasan tersendiri yang bersifat simbolis di balik gol tersebut.
"like some sort of symbolic revenge against the English" aku Diego Maradona, Legenda Argentina.
Bahkan menjelang hari tuanya, ia sempat berseloroh ingin mengulangi momen ikonik tersebut menggunakan tangan yang berbeda.
"I dream to score another goal against the English, this time with the right hand." seloroh Diego Maradona, Legenda Argentina.
Mantan kapten Inggris menyatakan bahwa kenangan kekalahan adu penalti pada turnamen tahun 1998 masih menyisakan kekecewaan hingga kini.
"still hurts now." aku Alan Shearer, Mantan Kapten Inggris.
Seorang jurnalis senior menilai pertanding tahun 1986 telah mengubah total esensi dari pertemuan kedua timnas ini.
"Before 1986, it was just another match. Since then, it has carried a political and emotional weight that goes far beyond football." analisis Víctor Hugo Morales, Jurnalis Uruguay.
Bagi publik Argentina, menyanyikan lagu tentang rivalitas ini merupakan bagian dari pembentukan identitas kultural mereka.
"It’s part of the Argentine culture," kata Nicolas Rotnitzsky, Jurnalis Argentina.
Melompat bersama di stadion menjadi simbol pembeda identitas yang jelas antara kelompok mereka dengan kubu lawan.
"It’s like 'we are not them – we are us'. So we have to jump to prove that we are not one of them." tambah Nicolas Rotnitzsky, Jurnalis Argentina.
Rotnitzsky meluruskan bahwa persaingan sengit ini murni dinamika olahraga dan kultural, bukan didasari oleh kebencian mendalam.
"It’s not about hate, not at all" jelas Nicolas Rotnitzsky, Jurnalis Argentina.
Ia menegaskan kembali pentingnya mengenang sejarah kedaulatan wilayah sebagai cerminan jati diri bangsa.
"It’s important, getting our identity around what happened with the Malvinas. It’s about who we are." pungkas Nicolas Rotnitzsky, Jurnalis Argentina.
Dari aspek diplomatik, ketegangan ini dipicu oleh pernyataan resmi pejabat luar negeri mengenai asal-usul populasi di kepulauan tersebut.
"artificially implanted by the occupying power" tuding Pablo Quirno, Menteri Luar Negeri Argentina.
Pemerintah Inggris langsung merespons klaim tersebut dengan menegaskan hak politik warga yang tinggal di sana saat ini.
"British with a right to determine their own future" tegas Pemerintah Inggris.
Sejarah mencatat federasi sepak bola dunia pernah memberikan sanksi denda ketika para pemain membentangkan spanduk politik sebelum laga persahabatan tahun 2014.
"The Malvinas are Argentine" bunyi Spanduk Timnas Argentina.
Pemenang dari laga semifinal yang penuh dengan muatan emosional ini dijadwalkan akan menantang Spanyol di babak final pada hari Minggu.