Elliot Anderson Siap Bela Inggris Hadapi Argentina di Semifinal

Share

Gelandang tim nasional Inggris Elliot Anderson bersiap tampil sebagai starter dalam pertandingan semifinal Piala Dunia 2026 melawan Argentina di Atlanta pada Rabu malam waktu setempat.

Pemain berusia 23 tahun itu mendapat dukungan luar biasa dari kampung halamannya di Whitley Bay, termasuk dari mantan guru-gurunya dan restoran lokal favoritnya.

Mantan bintang Manchester United Gary Pallister memberikan pujian tinggi atas etos kerja keras yang ditunjukkan oleh gelandang baru Manchester City tersebut selama turnamen berlangsung.

"Mungkin Anderson. Ia telah menyesuaikan permainannya di City. Sedikit kecewa karena ia tidak mempertimbangkan Man United, tapi saya rasa mereka memang tidak pernah serius mengejarnya.

"Saya pikir kerja keras yang dia lakukan—beberapa kondisinya sangat sulit, bermain di ketinggian, bermain di cuaca lembap, bermain di cuaca panas. Dia adalah pemain yang tidak takut bekerja keras. Lihat saja pertandingan melawan Meksiko dan hal-hal semacam itu, dan menurut saya tingkat kerjanya luar biasa—kemampuannya merebut kembali bola.

"Menurut saya, sangat menarik melihatnya berhadapan dengan [Erling] Haaland beberapa malam yang lalu. Mereka akan menjadi rekan setim tahun depan dan dia, bisa dibilang, agak mudah terjatuh saat didorong oleh Haaland. Namun, saya pikir dia juga menjalani turnamen yang sangat bagus." kata Gary Pallister kepada GOAL dalam wawancara eksklusif bersama NetBet Sport.

Meski menuai banyak pujian, beberapa pengamat sepak bola menilai masih ada ruang bagi Anderson untuk terus berkembang di lini tengah Inggris.

"Satu hal yang ingin saya sampaikan, terkadang dia bisa melompat sedikit terlalu dini. Jika ada Bellingham dan Declan Rice [di depannya], terkadang pertahanan kami terlihat sedikit terbuka di depan barisan empat bek. Saya pikir dia brilian, tapi hal itu memang mengkhawatirkan. Mungkin itu karena kita bermain melawan Norwegia, bukan Argentina, Prancis, atau Spanyol." ujar mantan penyerang Inggris Gary Lineker dalam podcast Rest Is Football.

Di sisi lain, mantan bek Manchester City Micah Richards menilai Anderson sebenarnya lebih cocok bermain sebagai gelandang nomor delapan daripada gelandang bertahan murni.

"Sebenarnya saya pikir dia adalah gelandang nomor delapan, bukan nomor enam. Kemampuan teknisnya terlalu bagus, jangkauan umpannya sangat baik. Dia punya energi yang melimpah, bisa bergerak naik-turun lapangan. Dia begitu hebat sehingga selalu ingin terlibat.

"Dia memang pemain yang brilian [tapi] dia harus lebih disiplin. Jika kamu bermain melawan Prancis dan [Michael] Olise berada di posisi nomor 10, kamu akan langsung kesulitan. Hanya detail-detail kecil seperti itu; jika dia bisa memperbaikinya, dia bisa menjadi apa pun yang dia inginkan—saya pikir dia sehebat itu. Man City merekrutnya, dia persis apa yang mereka butuhkan: energi.

"Tapi ini sulit. Rice adalah pemain yang lincah, dia bukan gelandang nomor enam, melainkan nomor delapan. Jude adalah gelandang nomor delapan atau sepuluh, dan Anderson juga gelandang nomor delapan, jadi itulah mengapa beberapa orang membicarakan Kobbie Mainoo [untuk diturunkan], tapi dia [Thomas Tuchel] tidak tertarik padanya." tambah Micah Richards.

Di Whitley Bay High School, tempat Anderson menyelesaikan masa sekolahnya, para guru mengenangnya sebagai sosok pekerja keras yang mampu membagi waktu antara akademik dan sepak bola.

"You could always tell he was working in about third gear and yet he was still running rings around everyone, but that's the way he wanted to be.

"He didn't want to take the mick out of everyone, just wanted to be one of the lads really." kata guru olahraga Steven Anderson kepada ChronicleLive.

Wakil kepala sekolah Sarah Fitzpatrick juga turut mengungkapkan kebanggaannya terhadap pencapaian dan kedewasaan Anderson selama menempuh pendidikan.

"He had to balance a lot of commitments to the Newcastle academy at the time with his studies, and it is a credit to him that he did manage to juggle that. A lot of the time he was out at the academy but he always caught up with his work, be it at lunch time or after school.

"He always made sure he valued his education, he didn't just see it as secondary to his football. In the classroom he was always quite competitive.

"But even if he didn't like a subject, he still gave his very, very best and was always very popular." kenang Sarah Fitzpatrick.

Karier Anderson melejit setelah Manchester City membelinya dari Nottingham Forest seharga 135 juta euro, menjadikannya pembelian termahal klub per Juli 2026.

"It is surreal, my memories of him are being a 14/15-year-old lad.

"You don't really see him as being someone who is going to warrant a £100m+ transfer in the future. You never really expect something like that, but fair play to him, he's worked exceptionally hard to get there and he's done really, really well." tutup Steven Anderson.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author