Kisah Pasangan Lansia 35 Tahun Jualan Bolang-Baling Kayu Bakar

Share

Sepintas tak ada yang berbeda dari Jalan Citarum Selatan IV, Kelurahan Bugangan, Kecamatan Semarang Timur, Kota Semarang. Namun begitu azan magrib berkumandang, anak-anak mengantre di salah satu rumah untuk membeli bolang-boling, kudapan dari tepung yang biasa dijual bersama cakwe. Aroma kayu bakar langsung menyambut begitu memasuki sebuah rumah sederhana berwarna oranye milik Juminten dan Rebo itu.

Dalam sebuah ruangan berdinding bata yang mulai menghitam karena jelaga, sepasang lansia sibuk mengolah adonan bolang-baling. Di bawah remang lampu bohlam, Juminten berdiri di depan wajan raksasa yang ditopang tungku berbahan bakar kayu. Kobaran api berwarna jingga menyala dari bawah tungku, sementara adonan bolang-baling mengembang dan berubah keemasan di dalam minyak panas.

Rambut putih Juminten semakin terlihat jelas di bawah cahaya lampu. Punggungnya yang bungkuk berusaha menopang tubuh Juminten yang tangannya terus membolak-balik adonan bolang-baling.

Di sampingnya, sang suami tampak menguleni adonan di atas meja kayu besar yang sudah dipenuhi taburan tepung. Tangannya lincah memotong adonan menjadi ukuran kecil sebelum diserahkan kepada Juminten untuk digoreng. Beberapa pembeli terlihat masuk hingga ke bagian dapur untuk menunggu bolang-baling yang baru diangkat dari penggorengan. Mereka sesekali berbincang dengan Juminten sembari menunggu pesanan selesai.

Perempuan asal Solo itu mengaku sudah 35 tahun berjualan bolang-baling di lokasi tersebut. Bahkan, usaha itu sebenarnya sudah dimulai lebih dulu oleh kakak perempuannya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author