Spanyol Singkirkan Prancis dan Perpanjang Dominasi Yamal atas Mbappe
Tim nasional Spanyol berhasil mengalahkan Prancis dengan skor 2-0 pada babak semifinal Piala Dunia 2026 di Dallas, Selasa, 14 Juli 2026, sekaligus memperpanjang rekor keunggulan Lamine Yamal atas Kylian Mbappe.
Kemenangan tersebut membuat tim asuhan Luis de la Fuente melaju ke babak final, sementara langkah kapten Prancis Kylian Mbappe untuk menyamai pencapaian tiga final beruntun resmi terhenti.
Kekalahan ini juga mempertegas dominasi Yamal, di mana tim yang ia bela kini mencatatkan rekor enam kemenangan beruntun tanpa kalah melawan tim yang diperkuat Mbappe di fase gugur turnamen.
Secara keseluruhan, Yamal kini unggul sembilan kemenangan berbanding dua atas Mbappe dalam seluruh pertemuan mereka, baik di tingkat internasional maupun dalam laga El Clasico di Spanyol.
Sebelum pertandingan berlangsung, tensi sempat memanas setelah penyerang sayap Spanyol Nico Williams memberikan pernyataan mengenai perbandingan antara Mbappe dan Yamal.
"Kylian Mbappe is a monster, he’s one of the best in the world. But we also have Lamine Yamal, the best in the world." ujar Nico Williams, pemain tim nasional Spanyol.
Pernyataan tersebut memicu reaksi karena menempatkan Yamal di atas kapten Prancis yang memiliki catatan 20 gol di Piala Dunia tersebut.
Di sisi lain, Mbappe sendiri sebelumnya sempat memberikan pandangan dan dukungannya terhadap perkembangan karier Yamal yang bersinar sejak usia muda.
"He needs to be left alone. He is a great player, but in life, he is an 18-year-old boy. Everyone makes mistakes at that age, he has great talent, and he will follow the path he wants. I wish him the best of luck." kata Kylian Mbappe, kapten tim nasional Prancis.
Meski kalah di semifinal, Mbappe tetap mencatatkan performa individu yang luar biasa sepanjang turnamen di Amerika Utara ini dengan membukukan delapan gol dan tiga assist.
Sementara itu, Yamal yang menjadi pilar penting pertahanan dan penyerangan Spanyol juga mengungkapkan ambisi pribadinya mengenai persaingan ketat di level tertinggi sepak bola dunia.
"My goal is not to be compared to Messi, Cristiano, Neymar, or Mbappé. My goal is to be mentioned alongside them. The next time someone asks that question, I want my name to be part of that group," kata Lamine Yamal, penyerang sayap Spanyol.
Sebelum laga krusial tersebut, kubu Prancis juga sempat menepis anggapan bahwa fokus pertahanan mereka hanya tertuju pada sosok Yamal semata.
"That day our defense was not what it is now, we were missing many players, without disrespecting our teammates," kata Ibrahima Konate, bek tim nasional Prancis.
Ia juga menambahkan pernyataan untuk menegaskan kekuatan kolektif yang dimiliki oleh calon lawan mereka di semifinal tersebut.
"Spain is not just Lamine." ujar Ibrahima Konate, bek tim nasional Prancis.
Yamal sendiri mengaku tidak merasa tertekan meski ia belum mencetak banyak gol sepanjang turnamen Piala Dunia edisi kali ini.
"The truth is that I am not frustrated for not having scored. I won the Eurocup by scoring a goal. In the World Cup, I don't think anyone will tell me, 'You haven't scored.' The important thing is the team and advancing to the next round," kata Lamine Yamal, penyerang sayap Spanyol.
Selain persaingan di lapangan, Mbappe juga sempat diterpa tren humor media sosial yang menjulukinya sebagai "Dictator Mbappe" akibat beberapa kontroversi di luar lapangan, termasuk gugatan hukum terhadap pemilik kedai kebab Mohammed Henni di awal tahun 2024.
Namun di ajang Piala Dunia 2026, Mbappe berhasil menjawab keraguan publik Real Madrid dengan menyamai perolehan gol Lionel Messi di daftar top skor sementara sebelum Prancis akhirnya tereliminasi.
Pertemuan berikutnya antara Lamine Yamal dan Kylian Mbappe dijadwalkan bakal tersaji dalam laga El Clasico antara Barcelona melawan Real Madrid pada 24 Oktober 2026.