Gerhana Matahari Total Bakal Gelapkan Kota Makkah pada 2 Agustus 2027
Fenomena astronomi langka Gerhana Matahari Total (GMT) diprediksi akan membuat wilayah barat Arab Saudi, termasuk Kota Makkah dan Jeddah, gelap gulita pada siang hari tanggal 2 Agustus 2027 mendatang. Dilansir dari laporan Arabia Weather pada Senin (13/7/2026), pancaran sinar matahari di kota suci Makkah diperkirakan bakal tertutup sepenuhnya oleh piringan bulan hingga 100 persen selama kurang lebih 5 menit. Menurut rincian fase dari CNBC Indonesia, proses gerhana matahari parsial di Makkah akan dimulai pukul 12:01 waktu setempat, disusul fase totalitas dari pukul 13:24 hingga 13:29, dengan puncak totalitas terjadi pada 13:26.
Selain wilayah Makkah dan Jeddah, wilayah Saudi lain seperti Taif, Abha, Jazan, dan Al-Bahar juga masuk dalam jalur totalitas, sementara wilayah timur Saudi hanya akan menyaksikan gerhana sebagian dengan cakupan intensitas kegelapan di atas 60 persen.
Berdasarkan laporan Forbes dan Egypt Independent, fenomena tahun depan ini dijuluki sebagai gerhana abad ini karena menjadi gerhana matahari total dengan durasi terlama yang dapat diamati dari daratan di sepanjang abad ke-21. Durasi totalitas maksimum dilaporkan bakal mencapai 6 menit 23 detik di dekat Kota Luxor, Mesir, yang diprediksi menjadi pusat tujuan populer bagi pengamat internasional.
Jalur lintasan bayangan bulan ini bermula dari Samudra Atlantik, lalu melewati Spanyol bagian selatan, Maroko, Aljazair, Tunisia, Libya, Mesir, Arab Saudi, Yaman, hingga Somalia. Ilmuwan program gerhana di Markas Besar NASA, Kelly Korreck, menjelaskan keunikan posisi bulan bumi dalam fenomena kosmis ini melalui saluran Euronews pada Kamis (2/7).
"Sejaar ini, Bumi adalah satu-satunya planet yang kita ketahui mengalami jenis gerhana matahari seperti ini," kata Kelly Korreck, ilmuwan program gerhana di Markas Besar NASA. Pihak NASA menambahkan bahwa posisi jarak dan ukuran bulan yang sangat presisi ini memberikan pengalaman visual yang melampaui perubahan kegelapan sesaat di langit terik. "Ada bulan-bulan lain yang melintas di depan Matahari, namun memiliki Bulan dengan ukuran dan jarak yang sempurna untuk menyaksikan ini sungguh istimewa," tambah Kelly Korreck.
Selain pemandangan visual hilangnya matahari, suhu udara di jalur totalitas diperkirakan dapat turun hingga 10 derajat Celsius dan lapisan korona matahari akan terlihat dengan mata telanjang.
"Otak manusia cenderung menafsirkan gerhana sebagai sesuatu yang aneh, dan mungkin muncul rasa cemas karena langit menjadi gelap dengan cara yang tidak biasa kita alami," kata Kelly Korreck. NASA mengingatkan masyarakat untuk selalu menggunakan kacamata khusus berstandar ISO 12312-2 selama proses pengamatan dan hanya melepasnya saat fase totalitas 100 persen berlangsung demi keselamatan mata. "Namun begitu kamu benar-benar melihat totalitas dan menyaksikan bagian luar Matahari yang indah itu, rasanya menakjubkan. Sebanyak apa pun kamu melihatnya, kamu selalu ingin melihatnya lagi," lanjut Kelly Korreck.
Di sisi lain, media Mistar.ID melaporkan bahwa sebelum peristiwa di Arab Saudi tersebut, fenomena Gerhana Matahari Total lainnya akan lebih dulu melintasi Greenland, Islandia, Spanyol utara, Portugal, dan Rusia utara pada 12 Agustus 2026, namun wilayah Indonesia dipastikan tidak termasuk dalam lintasan bayangan bulan tersebut.