Mengenal Ciri Kepribadian Orang Tua yang Menerapkan Gentle Parenting

Share

Tren pola asuh lembut atau gentle parenting kini tengah ramai menjadi pembahasan di berbagai media sosial. Dilansir dari HaiBunda, metode pengasuhan ini sering kali disalahartikan sebagai gaya mendidik yang membebaskan anak tanpa adanya aturan sama sekali.

Padahal, konsep gentle parenting tetap memiliki batasan serta aturan yang jelas bagi anak. Perbedaannya terletak pada cara penyampaian komunikasi yang dilakukan secara lebih lembut dan penuh kasih sayang.

Metode pengasuhan ini memiliki kesamaan dengan pola asuh otoritatif yang menyatukan aturan tegas dengan kehangatan. Kombinasi tersebut bertujuan untuk membangun rasa hormat sekaligus kedisiplinan yang tinggi dalam diri anak.

Namun, gaya gentle parenting memiliki penekanan yang lebih mendalam pada sisi empati. Orang tua dituntut untuk lebih memahami gejolak emosi serta perasaan yang sedang dirasakan oleh anak mereka.

"Pada intinya, gentle parenting memperlakukan anak-anak sebagai individu yang memiliki emosi dan perspektif mereka sendiri, sehingga layak mendapatkan pengertian, rasa hormat, dan validasi," kata kepala kurikulum dan pengajaran di Haven, Haley DeSousa, M.Ed.

Penerapan pola asuh ini membawa dampak positif bagi hubungan internal keluarga. Ikatan antara orang tua dan anak dapat terjalin erat karena dibangun di atas fondasi kepercayaan serta rasa aman.

Kondisi tersebut membuat anak merasa nyaman untuk bersikap terbuka dan mengekspresikan perasaannya. Anak juga diajarkan untuk mengenali, memahami, dan mengendalikan emosi mereka secara sehat sejak usia dini.

Manfaat jangka panjang dari metode pengasuhan ini adalah menciptakan hubungan keluarga yang harmonis dan minim konflik. Selain itu, tingkat stres yang dialami orang tua juga cenderung menjadi lebih rendah.

"Anak-anak yang dibesarkan dengan gentle parenting cenderung mengembangkan kecerdasan emosional yang lebih baik. Ini mempersiapkan mereka untuk kesuksesan yang lebih besar di masa remaja dan dewasa," kata seorang konselor kesehatan mental, Ryanne Mellick.

Berdasarkan data yang dikutip dari Today's Parent, terdapat beberapa karakteristik kepribadian yang menonjol dari orang tua yang menerapkan metode ini.

Karakteristik pertama adalah selalu berupaya memberikan contoh yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Orang tua menyadari bahwa mereka merupakan model peran utama yang perilakunya akan ditiru langsung oleh anak.

Ketika orang tua terbiasa mengelola emosi dengan tenang saat menghadapi masalah, anak akan mempelajari hal serupa. Sebaliknya, kebiasaan berteriak saat marah juga berpotensi besar ditiru oleh anak.

Ciri kedua adalah selalu berpikiran dan bersikap positif terhadap tindakan anak. Alih-alih memberikan fokus berlebih pada kesalahan, orang tua lebih memilih untuk mengapresiasi setiap perilaku baik anak.

Pemberian pujian atau afirmasi positif sekecil apa pun membuat anak merasa dihargai. Hal ini dinilai efektif untuk menumbuhkan rasa percaya diri pada anak.

Selanjutnya, orang tua juga selalu mendorong anak untuk melatih kemandirian sejak dini. Proses ini dimulai dari hal-hal sederhana seperti memakai sepatu sendiri atau merapikan mainan yang telah digunakan.

Terakhir, orang tua akan memberikan ruang tumbuh yang cukup bagi anak tanpa melakukan pengawasan yang berlebihan. Anak diberikan kebebasan untuk mengeksplorasi minatnya dengan tetap mendapatkan pendampingan yang proporsional.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author