Rupiah Berpotensi Melemah hingga Tembus Rp 18.200 per Dolar AS

Share

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang kini berada di kisaran Rp 18.100 diprediksi akan melanjutkan tren pelemahan hingga berpotensi menembus level di atas Rp 18.200 per dolar AS pada pekan ini, dilansir dari Detik Finance pada Selasa (14/7/2026).

Kondisi ini dipengaruhi oleh kombinasi sentimen eksternal yang memanas di kawasan Timur Tengah serta tekanan struktural dari perekonomian dalam negeri.

Analis Komoditas dan Mata Uang, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan pergerakan mata uang Garuda berisiko mengalami depresiasi yang lebih mendalam dalam waktu dekat.

"Rupiah ini melemah di atas Rp 18.200 kemungkinan besar akan terjadi. Karena saya sendiri memberikan target di minggu ini itu kemungkinan Rp 18.300-an," kata Ibrahim Assuaibi, analis Komoditas dan Mata Uang.

Ibrahim menjelaskan bahwa konflik yang eskalatif di Timur Tengah melibatkan AS, Iran, dan Israel berimbas langsung pada lonjakan harga minyak mentah dunia hingga melampaui US$ 80 per barel, yang memicu lonjakan kebutuhan pasokan dolar.

"Perang di Timur Tengah ini kan semakin menjadi kan. Kemudian Israel menyerang Lebanon, kemudian Iran dan Amerika pun juga saling serang bahkan menutup Selat Hormuz, sehingga membuat harga minyak itu sudah kembali di atas US$ 80 per barel ya," jelas Ibrahim.

Tingginya harga komoditas energi tersebut berpotensi menekan anggaran belanja negara, terutama untuk membiayai impor minyak mentah guna memenuhi kuota bahan bakar bersubsidi di dalam negeri.

"Walaupun pemerintah sudah mematok untuk minyak mentah itu di US$ 83 per barel di semester kedua. Tetapi kalau nanti seandainya di atas US$ 83 per barel, apa yang terjadi? Berarti kebutuhan dolar itu juga akan tinggi," sambung Ibrahim.

Menurut Ibrahim, beban anggaran subsidi energi ini menjadi salah satu akar permasalahan struktural yang membebani nilai tukar rupiah dibanding negara-negara tetangga yang sudah mencabut subsidi tersebut.

"Sebenernya masalahnya kan masalah subsidi. Bank dunia, IMF, itu kan menginginkan agar subsidi dikurangi. Tetapi pemerintah masih mempertahankan subsidi sampai akhir tahun. Ini awalnya nih, dasarnya nih," ujar Ibrahim.

Kebijakan mempertahankan BBM bersubsidi dinilai membuat posisi rupiah menjadi lebih rentan terhadap gejolak pasar keuangan global.

"Negara-negara lain seperti Malaysia, Singapura, Filipina, Vietnam nggak ada subsidi, cabut semua. Nah Indonesia orang yang paling ngotot gitu kan. Jadi pada saat Indonesia mempertahankan BBM subsidi, ya berarti harus siap rupiah melemah," tutur Ibrahim.

Di sisi lain, aliran modal keluar juga dipicu oleh kewajiban korporasi asing membagikan dividen serta menurunnya tingkat kepercayaan investor asing terhadap kepastian penegakan hukum di Indonesia.

"Investor bingung dengan kondisi Indonesia saat ini yang carut-marut. Penegak hukum yang dianggap malaikat ada tertangkap korupsi, apalagi yang di bawahnya. Polisi pun yang dianggap penegak hukum itu juga korupsi, Jaksa itu juga sama.

Sekarang investor mau lihat ke mana? Sehingga ini yang membuat modal keluar. Jadi wajarlah kalau seandainya rupiah kembali melemah," tegas Ibrahim.

Proyeksi serupa turut disampaikan oleh Ekonom Senior INDEF, Tauhid Ahmad, yang menilai eskalasi konflik global mendorong pelaku pasar mengamankan aset mereka ke instrumen investasi yang lebih aman.

"Ada potensi ini melemah ya. Ini kan dengan situasi faktor global Timur Tengah. Karena Timur Tengah ini kan orang akhirnya lari ya ke safe haven, termasuk lari ke Amerika. Dengan katakanlah situasi Timur Tengah, kalau Timur Tengah lagi konflik, biasanya US dollar-nya justru menguat ya," ujar Tauhid Ahmad, Ekonom Senior INDEF.

Selain faktor geopolitik eksternal, Tauhid juga menyoroti perlambatan aktivitas ekonomi domestik dalam dua bulan terakhir yang ikut melemahkan posisi nilai tawar mata uang rupiah.

"Kalau kita lihat di 2 bulan terakhir Mei dan Juni ini, ekonomi domestik ini agak relatif menurun. Kalau kita lihat di indeks keyakinan konsumen maupun PMI dan sebagainya, itu merefleksikan penurunan ekonomi dan itu juga cukup membuat rupiah melemah," kata Tauhid.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author