Dokter Mata Ingatkan Risiko Miopia Progresif Mengintai Anak Sekolah
Risiko miopia atau mata minus yang berkembang cepat kini mengintai anak-anak di Indonesia yang tengah memulai tahun ajaran baru sekolah.
Para orang tua diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kesehatan fungsi penglihatan ini, seperti dilansir dari Detik Health.
Lonjakan kasus miopia dipicu oleh perubahan gaya hidup anak sekolah saat ini yang menghadapi beban akademis tinggi hingga sore hari.
Jadwal padat membuat anak menghabiskan waktu untuk aktivitas melihat jarak dekat seperti membaca, menulis, dan menatap layar gawai secara berlebihan.
Dampaknya, anak-anak semakin kehilangan waktu berharga untuk bermain di luar ruangan dan tidak mendapatkan paparan sinar matahari yang cukup.
Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) Jakarta, dr. Julie Dewi Barliana, Sp.M(K), M.Biomed, menjelaskan bahwa kombinasi kurangnya aktivitas luar ruangan dan tingginya intensitas aktivitas jarak dekat dapat mempercepat kerusakan fungsi penglihatan anak, bahkan sebelum genap berusia 8 tahun.
"Beban sekolah anak sekarang ini berbeda. Kita dulu mungkin jam 12 atau jam 1 sudah pulang, sekarang mereka jam 4 sore baru pulang. Jadi beban sekolah tinggi dan dilanjutkan lagi dengan les sehingga sangat kurang waktu mereka untuk bermain," ungkap dr. Julie saat ditemui di Jakarta, Minggu (12/7/2026).
Secara biologis, anak berusia 6 hingga 7 tahun normalnya memiliki cadangan rabun dekat atau hiperopia sekitar +1 hingga +1,5 dioptri untuk melindungi mata dari risiko mata minus dini.
Namun, jika cadangan tersebut menipis atau hilang lebih cepat, anak dinyatakan masuk dalam fase pre-miopia, yaitu kondisi struktur bola mata menunjukkan tanda kuat mengalami miopia progresif.
Menurut dr Julie, kelompok anak paling rentan masuk fase pre-miopia adalah dari etnis Asia, memiliki riwayat orang tua bermata minus, serta memiliki kebiasaan gaya hidup minim aktivitas luar rumah.
Fase pre-miopia yang bertepatan dengan usia awal sekolah ini merupakan momentum paling ideal bagi orang tua dan dokter untuk melakukan intervensi dini.
"Jika dibiarkan tanpa kendali dan intervensi medis, kondisi ini dapat merosot menjadi high myopia (minus tinggi) hingga pathologic myopia (miopia patologis). Dalam jangka panjang, kondisi ekstrem tersebut berisiko memicu komplikasi fatal pada organ mata, seperti atrofi retina, myopic maculopathy, hingga neuropati optik yang dapat menyebabkan gangguan penglihatan berat dan permanen. Kalau progresivitas ini tidak kita tahan, maka ada komplikasi di masa mendatang yang kurang baik, yang tentunya akan menyebabkan gangguan penglihatan berat," tegas dr Julie.